Oleh: Fathiya Nazihah | 17 April 2012

Dia, Dia, Dia

Dia, yang kenangannya bagiku begitu dalam.

Bahkan lebih dalam dari cinta pertama yang pernah aku rasakan.

Dia yang sampai saat ini pun masih ingin selalu kulihat wajahnya,

ingin selalu kuketahui kabarnya.

Ya, dia mungkin bukan yang pertama, tapi membekas begitu lama.

Dia yang pertama kali membuatku tersanjung, seolah memang hanya aku wanita yang pantas disanjung.

Dia yang pernah membuat dinding hatiku kesemutan,

menjalarkan rasa hangat dan sejuk yang tidak bisa aku jelaskan.

Dia yang membuatku tertunduk malu, tak bernyali mengangkat dagu, saat ia mulai memegang gitarnya dan bernyanyi untukku.

Dia yang mempersilakan aku turun sambil berucap, “Silakan turun, Tuan Putri …”

Dia yang begitu manis, terlalu manis.

Dia yang begitu kusukai, sampai akhirnya kucintai.

Namun dia pula yang menghadiahiku segores luka, luka yang begitu menganga.

Membuatku jatuh, begitu dalam, terlalu dalam,

ke sumur tanpa dasar yang lebih pekat daripada langit malam.

Membuat hatiku memekik, melolong, tanpa ada yang sanggup menolong.

Meringis, menangis, menanggung perih yang tak tertepis.

Sampai rasanya aku tak sudi berkenalan dengan kata maaf.

Bukan aku tak ingin, tapi entah, aku hanya belum bisa.

Dia yang ketika aku mengingatnya, terasa ada yang nyeri dan menggigit.

Dia yang setia kali melihatnya, selalu terasa ada yang belum tuntas dan ingin memperbaiki.

Dia yang setiap kali dengannya, selalu terasa ada yang salah dengan cara kami bersikap.

Dia yang masih sangat ingin kutemui, ingin sekali berbincang dengannya lagi,

mendengar tawanya kembali,

dan tersenyum untuknya lagi, senyum yang aku tahu, pasti selalu ia nanti.

Ya, aku merindukannya.

Tapi aku begitu menyadari bahwa aku belum sanggup menatap sosoknya, lama.

Bisakah suatu saat kita menjadi teman?

Akankan Tuhan berkenan?

 

 

Dia yang karenaku hatinya malu.

Dia yang tersenyum karena aku tersenyum.

Dia yang bahagia karena aku tertawa.

Dia yang tak akan rela jika aku meneteskan air mata karena terluka.

Dia yang merasa cinta pada pandangan pertama itu nyata.

Dia yang menganggap aku adalah matahari,

yang kehadirannya selalu dinanti sebelum bermimpi.

Baginya senyumku sehangat sinar mentari

yang sanggup mencairkan bekunya segumpal hati.

Dia yang tak ragu menuliskan namaku dalam catatan rahasianya,

tanpa perlu orang lain tahu isinya.

Dia yang ternyata begitu mengagumiku, mencintaiku,

mengharapkan uluran tanganku agar bisa bersama.

Dia yang cukup membuatku merona malu, namun tetap dengan sekerat ragu.

Dia yang cukup kusukai, tapi tak cukup kucintai.

Dia yang pernah ingin kusambut hatinya,

namun ragu karena belum cukup mengenal hidupnya.

Dia yang cukup membuatku tertarik, tapi tak cukup membuatku percaya.

Dia yang telah berusaha, namun belum berhasil mengenyahkan seluruh ketakutanku.

Dia yang tanpa aku sadari ternyata begitu tersakiti.

Dia yang aku ketahui cukup dewasa, cukup berjiwa besar setelah terluka.

Dia yang berkenan tetap dan terus berteman,

tapi dengan terpaksa, aku tidak bisa, betapapun sebenarnya aku ingin.

Dia yang tak sanggup aku lukai lebih dalam, dan kuharap akan menemukan hati lain lain yang dapat ia genggam.

 

 

Dia yang di awal begitu kuingkari hatinya,

begitu kuhindari matanya, dan kutulikan telinga dari kejujurannya.

Dia yang mengisi hari-hariku dan kami mengambinghitamkan takdir atas itu.

Dia mengisi hatiku, nyaris penuh, tanpa aku sadari.

Dia yang menghadirkan cinta yang begitu halus, lebih halus daripada angin.

Namun tanpa disadari, kini telah ia genggam seluruhnya.

Dia yang begitu sering mebuatku tertawa sekaligus memaki canda ke hadapan mukanya.

Dia yang begitu menyayangiku, namun tak pandai mengungkapkannya.

Dia yang terlalu jujur, namun juga pemalu.

Dia yang begitu sederhana sekaligus rumit.

Dia sederhana karena rasa malunya, dan rumit karena kejujurannya.

Dia yang ketika melihat aku selesai berdandan sedikit, akan berkata, “Kamu cantik.” lengkap dengan wajah polosnya yang jujur, namun sanggup membuat hatiku meleleh karena malu.

Dia memang tidak memakai terlalu banyak kata dengan beribu makna.

Hanya sikap dan tindakan, serta sedikit kata-kata sederhana.

Memang, pernah sekali, dia berkata bahwa akulah bintang hatinya, bintang hidupnya.

Dia mungkin bukan pria yang akan menyanyikan “Marry Your Daughter”nya Brian Mcknight ketika memintaku langsung dari ayahku.

Namun yang aku tahu, dia berani mematahkan rasa takutnya, dan melawan gemetar di lututnya, untuk memohon maaf kepada orangtuaku saat dia berbuat salah.

Dia yang mebuatku terdiam ketika ia bertanya, “Mengapa Kamu mencintaiku?”.

Kemudian membuatku berpikir, cinta tidak perlu alasan untuk hadir di hati manusia.

Aku hanya, mencintaimu.

Tada, kimi wo aishiteru.


Responses

  1. tiba-tiba, aku memikirkan dia..

    • Dia yg mana, anyway??? :D

      • Dia, yang sanggup bikin saya nangis pilu,, huhuhu :'(

        Dia, yang itu loo.. yang ituu.. :p

      • yg ituuu … yg kemarin ituuu … ya??? hehehe

      • iyaaa :'(

      • Jgn menangis … *wipe your tears*
        Hidup itu kejaaam … Dunia itu keraaasss … :D

      • hahaha :D

        ikhlas itu susah :D

      • Hehehe … yg itu benar sepertinya …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: