Oleh: Fathiya Nazihah | 10 Agustus 2011

Untitle Yet …

Saat melakukan suatu dosa yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya, maka hadirnya titik hitam baru di hatimu akan sangat terasa. Tapi ketika kamu mulai terbiasa, kehadirannya tak lagi terasa. Padahal titik-titik hitam itu tidak pernah pergi, apalagi berkurang. Ia betambah banyak. Terus merambah sisi-sisi hatimu yang sebelumnya bersih, dan perlahan membuatnya semakin hitam. Semakin hitam.

Kemudian, akan tiba saatnya kamu merasa begitu menyesal. Begitu bersalah. Begitu tersiksa. Begitu berdosa. Begitu kecewa pada dirimu sendiri karena gagal mengendalikan diri. Mengendalikan nafsumu. Gagal menikam jantung setan yang merayu hatimu. Begitu menyesal karena kamu telah selesai membuat cambuk penghancur tulang-tulang bagi kedua orang tuamu kelak di kubur. Merasa begitu dungu karena telah menjadi anak durhaka tanpa pernah kamu berniat sebelumnya. Merasa begitu durhaka karena telah menyediakan bara untuk membakar kedua orang tuamu di dasar neraka. Merasa tersiksa karena harus menyaksikan mereka diazab atas kesalahanmu.

Kemudian ingin rasanya menangis, memohon ampun, mengadu dan mengaku betapa lemahnya hatimu atas nafsumu. Ingin rasanya kembali bersih. Ingin rasanya direngkuh dan dibelai oleh rahmat-Nya. Begitu ingin menghiba, memelas, memohon ampun dan belas kasihan-Nya. Setiap butir air matamu rasanya tidak mampu mewakili selaksa penyesalan yang kamu tanggung, yang membuat batinmu melolong merana, yang membuat sukmamu menjerit penuh derita.

Tapi air mata itu tak pernah menetes. Mereka hanya berputar-putar memusing di dalam jantungmu. Mereka tak pernah mengalir. Kamu menyimpannya, karena tidak sanggup mempersiapkan jawaban ketika mereka akan bertanya mengapa tiba-tiba meraung menyayat hati. Kamu terlalu malu jika mereka harus mengetahui aibmu. Kamu terlalu takut akan dihakimi, akan dipandang hina oleh mereka yang selama ini menganggapmu suci, sekalipun kamu tidak pernah memintanya.

Kemudian kamu berjanji untuk tidak mengulanginya. Tidak lagi mengulanginya. Tidak akan lagi mengulanginya.

Kamu tahu Allah begitu mencintaimu. Dia tidak pernah meninggalkanmu. Dia hanya ingin mengingatkanmu, agar kembali mengingat-Nya. Agar kembali dekat kepada-Nya. Jika Dia ingin menghukummu, atau mengazabmu, Dia bisa saja membongkar semua aibmu kepada makhluk-Nya yang lain. Tapi tidak. Dia mencintaimu. Dia ingin kamu kembali.

Kemudian selama beberapa saat yang tidak begitu lama, kamu kembali mengulanginya tanpa sanggup menolak. Kamu kembali mengotori batinmu. Kamu kembali menyiksa hatimu.

Berikutnya kamu kembali akan menyesal. Merasa begitu bodoh. Begitu malu. Begitu hina. Begitu tersiksa. Begitu bersalah, dan kecewa. Kemudian cerita yang sama akan berputar lagi. Terulang lagi. Seperti rekaman kaset rusak.

Kamu tahu dan sadar sepenuhnya bahwa kamu harus berhenti. Segera. Secepatnya. Kamu tidak ingin ‘ditampar’ lebih keras oleh-Nya. Maka berhentilah. Menangislah saat yang lain terlelap. Mengadulah. Mengakulah. Memohonlah ampun kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kita akan kembali. Dia begitu Pengasih. Yakinlah. Dia sangat Penyayang. Percayalah. Menghibalah, walaupun tak mungkin tak akan lagi suci, setidaknya memohonlah kekuatan agar tak bertambah hina di hadapan-Nya.

“Innashsholaatatanha ‘anilfakhsyaa iwalmunkar_Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” (Q.S Al-Ankabut:45)

“Laa taqrabu zina.” (Q.S. Al-Israa:23)

 

Mari kita sama-sama belajar, saling mengingatkan, dan memperbaiki diri. =)


Responses

  1. Salam blogger


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: