Oleh: Fathiya Nazihah | 6 Juli 2010

PERAN AHLI GIZI SEBAGAI PENYULUH & KONSELOR GIZI

Mungkin sebelumnya banyak di antara kita yang tidak tahu bahwa ternyata ada sebuah profesi di bidang kesehatan selain dokter, perawat, dan bidan, yakni sebuah profesi yang disebut ahli gizi. Profesi ini tentu saja berbeda dengan profesi-profesi lain di bidang kesehatan yang lebih akrab di telinga kita itu.

Mendengar namanya, tentu kita akan secara otomatis mengaitkan profesi yang satu ini dengan segala macam hal yang berhubungan dengan makanan dan diet. Tidak salah sebenarnya. Hanya saja, jika dilihat lebih jauh, ternyata peran seorang ahli gizi tidak melulu mengurusi soal makanan, diet, dan penyakit.

Secara umum, paling tidak seorang ahli gizi memiliki 3 peran, yakni sebagai dietisien, sebagai konselor gizi, dan sebagai penyuluh gizi. Berikut dapat kita lihat satu per satu.

Dietisien adalah seseorang yang memiliki pendidikan gizi, khususnya dietetik, yang bekerja untuk menerapkan prinsip-prinsip gizi dalam pemberian makan kepada individu atau kelompok, merencanakan menu, dan diet khusus, serta mengawasi penyelenggaraan dan penyajian makanan (Kamus Gizi, 2010).

Sedangkan  seorang konselor gizi adalah ahli gizi yang bekerja untuk membantu orang lain (klien) mengenali, mengatasi masalah gizi yang dihadapi, dan mendorong klien untuk mencari dan memilih cara pemecahan masalah gizi secara mudah sehingga dapat dilaksanakan oleh klien secara efektif dan efisien. Konseling biasanya dilakukan lebih privat, berupa komunikasi dua arah antara konselor dan klien yang bertujuan untuk memberikan terapi diet yang sesuai dengan kondisi pasien dalam upaya perubahan sikap dan perilaku terhadap makanan (Magdalena, 2010).

Kemudian peran ahli gizi yang satu lagi ialah sebagai penyuluh gizi. Yakni seseorang yang memberikan penyuluhan gizi yang merupakan suatu upaya menjelaskan, menggunakan, memilih, dan mengolah bahan makanan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku perorangan atau masyarakat dalam mengonsumsi makanan sehingga meningkatkan kesehatan dan gizinya (Kamus Gizi, 2010). Penyuluhan gizi sebagian besarnya dilakukan dengan metode ceramah (komunikasi satu arah), walaupun sebenarnya masih ada beberapa metode lainnya yang dapat digunakan. Berbeda dengan konseling yang komunikasinya dilakukan lebih pribadi, penyuluhan gizi disampaikan lebih umum dan biasanya dapat menjangkau sasaran yang lebih banyak.

Ketiga peran itu hanya bisa dilakukan oleh seorang ahli gizi atau seseorang yang sudah mendapat pendidikan gizi dan tidak bisa digantikan oleh profesi kesehatan manapun, karena ketiga peran itu saling berkaitan satu sama lain, tidak dapat dipisahkan.

Lalu, apa pentingnya menjadi seorang ahli gizi? Tentu saja penting! Pernahkah kita renungkan bahwa sebagian besar penyakit-penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, kencing manis, darah tinggi, penyakit ginjal, hati dan empedu serta penyakit-penyakit malnutrisi (salah gizi) seperti obesitas, marasmus, kwasiorkor, gondok, dan kekurangan vitamin A yang diderita penduduk Indonesia dan tidak jarang bahkan sampai merenggut nyawa itu ternyata salah satunya disebabkan oleh minimnya pengetahuan akan gizi. Coba kita pikirkan lebih jauh, kalau saja penduduk Indonesia menjalankan pola hidup bersih dan sehat serta memerhatikan asupan makanan yang mereka konsumsi, tentu penyebaran penyakit-penyakit itu tidak akan merajalela seperti sekarang ini.

Kemudian, dari mana masyarakat umum dapat memeroleh informasi dan pengetahuan-pengetahuan tentang gizi guna memperbaiki pola hidup mereka? Di sinilah peran seorang ahli gizi sebagai penyuluh dan konselor gizi sangat diperlukan. Seorang ahli gizi yang tentu saja harus memiliki kompetensi sebagai seorang dietisien ini juga harus mau ‘membagi ilmu’ yang dimilikinya kepada masyarakat umum melalui konseling dan penyuluhan. Dengan ilmu yang menjadi keahliannya, ahli gizi dapat membantu masyarakat mengatasi masalah kesehatan mereka dan keluarga terutama yang berkaitan dengan gizi dengan menggunakan bahasa yang umum dan sederhana yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam.

Dengan adanya peran ahli gizi di dalam masyarakat, diharapkan dapat membantu memperbaiki status kesehatan masyarakat, khususnya melalui berbagai upaya preventif (pencegahan). Mudahnya begini, jika kita tahu apa saja dan bagaimana makanan yang aman, sehat, dan bergizi untuk dikonsumsi, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, niscaya kita akan terhindar dari berbagi penyakit mengerikan yang sudah disebutkan di atas. Bayangkan jika tidak, dan kemudian kita harus mengobati penyakit-penyakit itu, tentunya akan terasa sangat menyakitkan dan pastinya akan mengabiskan biaya yang tidak sedikit untuk mengobatinya. Kita semua  tahu, bahwa mencegah itu lebih baik (dan lebih murah) daripada mengobati. Jika kita bisa menerapkan kebiasaan itu, kita menjadi tidak mudah sakit, dan tidak terlalu tergantung kepada jasa dokter dan perawat, serta tidak perlu mengonsumsi obat-obatan yang umumnya selalu memiliki efek samping terhadap kesehatan.

Melalui ahli gizilah salah satu caranya masyarakat dapat mengetahui berbagai informasi-informasi dan isu-isu kesehatan, khususnya yang berhubungan dengan gizi. Jika dilakukan tatap muka, masyarakat pun dapat langsung berinteraksi dengan ahli gizi dan berkonsultasi langsung dengan mudah mengenai permasalahan gizi yang mereka hadapi. Ahli gizi yang memberikan penyuluhan dan konseling pun hendaknya memiliki bekal pengetahuan dan wawasan yang cukup yang harus terus ditambah dan diperbaharui setiap waktu.

Selain memberikan informasi mengenai makanan dan gizi yang dikandungnya, ahli gizi juga wajib menguasai tentang penyakit-penyakit yang berkaitan dengan gizi, seperti penyakit-penyakit degeneratif, penyakit-penyakit akibat malnutrisi, dan penyakit-penyakit infeksi untuk kemudian disebarluaskan kepada masyarakat. Hal-hal yang dapat diinformasikan antara lain dimulai dari pengertian dan penjelasan singkat mengenai penyakit tersebut, kemudian apa saja tanda dan gejalanya, apa penyebabnya, bagaimana cara mengatasi, mengobati, dan mencegahnya, serta apa saja makanan dan minuman yang dianjurkan dan yang tidak dianjurkan.

Sebagai seorang penyuluh, ahli gizi dapat menyampaikan informasi-informasi kesehatan yang khususnya berkaitan dengan gizi serentak kepada audiens yang jumlahnya relatif lebih banyak. Hal ini menguntungkan karena informasi penting tersebut dapat langsung tersebar kepada sasaran yang lebih luas dalam waktu yang relatif lebih singkat. Namun, informasi yang disampaikan biasanya bersifat umum, kurang detail, dan respon dari audiens yang dapat ditanggapi pun terbatas.

Sedangkan dalam melakukan kegiatan konseling gizi, biasanya terjadi komunikasi langsung dua arah antara konselor dan klien. Hal ini lebih efektif, karena informasi yang disampaikan pun dapat lebih detail dan lengkap. Komunikasi yang dibangun pun dapat lebih intens dan mendalam sehingga dapat benar-benar dipahami apa keinginan dan kebutuhan klien. Hanya saja, penyampaian informasi yang dilakukan melalui metode konseling ini akan memerlukan waktu yang lebih lama jika sasaran yang dicapai lebih banyak.

Mengingat betapa pentingnya peran ahli gizi dalam membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia, mari kita dukung mereka dalam menjalankan program-program gizi dan kesehatan guna menuju Indonesia yang lebih sehat!

By: Tyastiti Paradhipta

PO7131008444


Responses

  1. tadi malam nonton acara di Metro, tentang binaragawan gitu, ada Ade Rai, Tigor, Marcell, Adrian, mereka yang kayak gitu juga nerapin cara hidup sehat dengan ngatur makanan mereka ya =?

    aku dulu pernah pas ada suatu acara, ikutan konseling singkat, dikasih tau cara diet gitu, tapi sekarang lupa, dan tetep makan sekehendak hati
    dasar bebal =))

  2. Ya begitulah, Teh.
    Aku aja ingetnya masih kadang2.
    Kalo lagi inget, aku jad suka dapet tatapan aneh dr temen2, hehehe …
    Hasilnya, aku makin ceing aja.
    Aku jadi pengen makan sekehendak hati lagi nih. Heahahahahaaaaa …

    • Ya begitulah, Teh.
      Aku aja ingetnya masih kadang2.
      Kalo lagi inget, aku jad suka dapet tatapan aneh dr temen2, hehehe …
      Hasilnya, aku makin ceking aja.
      Aku jadi pengen makan sekehendak hati lagi nih. Heahahahahaaaaa …

  3. Peran ahli gizi betul sekali yaitu sebagai konselor baik di rawat inap maupun rawat jalan RS, Peran yang tidak dapat dilupakan yaitu sebagai perencana bahan makanan sampai makanan didistribusikan, serta mengembangkan penelitian gizi terapan di RS. Ada berbagai peran lain nya. Peran diatas umumnya di RS

    • Hehe, iya … Ini tulisan buat menuhin tugas DPKG di kampus soalnya. Jadi lebih baynak ngomongin soal ahli gizi sebagai konselor.

  4. saya calon ahli gizi 3 tahun mendatang loh insya allah hhhee
    semoga peran ahli gizi dapat membantu perbaikan status gizi di negeri kita :)

  5. sumber nya dari mana ini mbak ? Tolong cantumin sumber nya donk. soalnya maw di pake untuk diskusi kelompok. makasih mbak.
    :)

  6. kalau di rumah sakit itu dibagian apa ya?
    dan beda S1 gizi kesehatan dengan S1 gizi perusahaan terletak dimananya ya?

    • Klo dRS bs dbagian Instalasi Gizi..

      Beda S1 Gizi Kesehatan dg S1Gizi Perusahaan???(%)$#($#)& -agak bingung dg prtanyaanx-
      Yg jelas tujuannya tuh sama, yaitu meningkatkan kualitas individu/masyarakat bedanya yah, klo di perusahaan, selain mningkatkan kualitas kesehatan karyawan jg berusaha agar karyawan tsb tdk jatuh sakit [terkena penyakit] yg mana penyakit itu byk bersumber dr makanan atw dr pola makan yg salah.

  7. thanks utk infonya,sangat bermanfaat. Saya dari dulu selalu tertarik dgn segala artikel yg berhubungan dengan makanan & kesehatan. Bagaimana caranya utk menjadi ahli gizi? Apakah ada semacam kursus kilat atau harus melalui jenjang kuliah? Thank you.

    • Untuk jadi ahli gizi ada kuliahnya …
      Saya sih belum pernah nemui pendidikan nonformalnya …

  8. permisi , boleh gabung …!

  9. Emmmm….jadi pengen jadi Ahli gizi ;D
    kalo di rumah sakit kerjanya Ahli gizi apa ya? Ngebantu dokter yah??

    • Banyaaakk kerjaan ahli gizi di rumah sakit.
      Kalau dijelaskan di sini bisa habis kuota internet, hehehe
      Yang gampangnya aja, ngatur diet pasien yg dirawat di RS.

      Saya kurang setuju dengan istilah “ngebantu dokter”.
      Dalam dunia kesehatan, bukan masalah siapa membantu siapa, tapi bagaimana menolong pasien.

      Baik itu dokter, perawat, bidan, ahli gizi, tenaga analis kesehatan, radiografer, apoteker, perawat gigi, dll, semua punya tugas dan “pos-pos” tersendiri yang saling bersinergi dan HARUS bekerjasama dalam menolong pasien.
      Jadi tidak bisa kerja sendiri2, tidak ada profesi yg serba bisa.
      Satu profesi pasti membutuhkan bantuan profesi yg lain.

  10. Saya camaba Ilmu Gizi IPB’50 yang bercita-cita ingin menjadi Ahli Gizi masa depan. aamiin ya Rabbal’alamiin. mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan kepada saya dan kawan lainnya yg satu tujuan untuk menggapai cita-cita kami, yaitu menjadi seorang ahli gizi dan memperbaiki kondisi gizi masyarakat Indonesia. AAMIIN!! :D
    Saya minta doanya yaa. terima kasih :)

    • Aamiin … Semoga terkabul ya niat tulusnya itu … :)

      • Sayang sekali kak, saya tidak lolos snmptn undangan, otomatis saya gak bisa melanjutkan cita2 saya utk mendalami ilmu gizi :(
        tapi alhamdulillah skrg saya sdh diterima di D3 Analis kimia. apa saya bisa melanjutkan S1 di jurusan Ilmu gizi melalui jalur ekstensi? mohon pencerahannya kak, terima kasih^^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: