Oleh: Fathiya Nazihah | 15 September 2009

Talking-talking about Persahabatan

Hai
Aku tidak akan menanyakan kabarmu
karena aku tidak tertarik untuk mengetahuinya

Aku hanya ingin mengatakan bahwa
kami
Aku dan mereka
Sangat menyayangimu

Dan akan selalu begitu
sampai kapan pun
yang kau tak akan pernah tahu

Hm, bagaimana rasanya punya persahabatan yang usianya berhasil bertahan sampai angka 10 tahun, bahkan lebih?

That’s amazing! Wonderful! Fantastic, of course!
Bangga. Bahagia, sudah jelas.
Karena tidak semua orang bisa merasakan memilikinya.

Apa persahabatan yang berhasil bertahan selama itu akan berjalan mulus tanpa masalah?
Gak mungkin.

Yang namanya masalah itu adalah suatu keniscayaan dalam hidup manusia. Apalagi dalam berhubungan dengan orang lain, sudah pasti akan ada masalah. Yah, namanya juga beda kepala.

Masalahnya, hanya tinggal bagaimana kita menyikapi masalah itu.
Apakah kita akan menganggapnya sebagi pemisah atau bahkan pemutus hubungan dengan sahabat kita, atau kita cuma menganggap itu sebagai duri kecil yang menusuk kaki saat kita berjalan bersama sahabat kita?

Kalau menurutku, sih, itu hanya tinggal tergantung pada kemauan. Apa kita masih mau mempertahankan persahabatan kita, atau kita hanya akan membiarkannya kandas begitu saja setelah bertabrakan dengan masalah?

Menurutku lagi, kemauan itu akan muncul dengan sendirinya setelah ada keterikatan hati satu sama lain.

Nah, yang namanya keterikatan hati ini yang agak sulit dijelaskan. Itu semacam rasa nyaman dan cocok dalam berinteraksi dengan orang lain. Kita bisa merasakan apa yang dia rasakan. Saat dia terluka kita juga merasa sakit, dan bisa ikut bahagia saat dia bahagia.
Dalam bahasa sosiologi dan psikologinya, sih itu biasa disebut empati.
Tapi kayaknya, keterikatan hati yang aku masud ini lebih dari itu, deh! Soalnya saat sudah memiliki keterikatan hati, kita juga sering bisa menebak apa yang sedang disembunyikan di dalam hati sahabat kita. Bahkan, gak jarang juga kita bisa menebak apa yang akan terjadi dengannya beberapa saat kemudian.

Jadi mirip fortune teller, ya! Hehehe …
Eh, tapi itu beneran, lho! Aku gak akan lancang bilang kayak gitu kalo aku gak pernah merasakannya sendiri.

Memang, yang namanya cocok itu gak bisa dipaksakan. Kamu gak akan bisa memaksa dua orang yang untuk saling melihat saja sudah tidak suka, untuk bisa menjadi sepasang sahabat.

Menjadi cocok juga tidak harus menjadi sama.
Misalnya, jika sahabatmu piawai bernyanyi, kamu tidak harus juga bisa bernyanyi. Atau saat sahabatmu punya hp baru, kamu juga tidak harus mengganti hpmu menjadi sama seperti hp baru temanmu. Atau kamu juga gak perlu memaksakan diri untuk suka baca buku atau nonton film setelah kamu tahu bahwa sahabat-sahabatmu suka baca buku dan nonton film, kalau memang kamu gak suka. Atau saat sahabat-sahabatmu berhasil masuk ke sekolah favorit sedangkan kamu sendiri yang gagal, kamu juga tidak harus memaksakan diri untuk bisa bersekolah di sekolah yang sama dengan sahabat-sahabatmu kalau memang kamu tidak sanggup. Soalnya, percaya aja, kalau kamu yakin bahwa persahabatan kalian itu memang kuat, jarak dan waktu gak akan bisa berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan bahwa keterikatan hati kalian gak akan longgar.

Intinya, kamu gak perlu merasa rendah diri, atau bahkan yang lebih parah lagi, merasa tidak pantas untuk terus bersahabat dengan sahabat-sahabatmu saat kamu merasa berbeda dari mereka.

Justru bersatunya perbedaan dalam persahabatan itu yang menjadikannya indah dan pantas untuk dipertahankan.
Seperti pelangi.
Coba bayangkan jika pelangi hanya terdiri dari satu warna. Misalnya merah saja, atau hijau saja. Pelangi itu tidak akan seindah pelangi yang biasa kita lihat sejak kecil.
Paling-paling cuma orang yang suka warna merah yang akan mengatakan bahwa pelangi merah itu indah, dan pelangi yang berwarna hijau hanya akan terlihat indah bagi mereka yang menyukai warna hijau.
Harus diakui, keberagaman warna yang dimiliki pelangi itu yang menjadikannya terlihat cantik.

Itulah kenapa ada sekelompok sahabat yang menamakan kelompoknya “ De Rainbow” (pelangi). Ya karena kepribadian mereka yang berbeda dan unik satu sama lain, tapi mereka bisa tetap terus kompak.

Lalu, apakah awetnya sebuah persahabatan tidak membutuhkan bahan pengawet?
Hehehe … ya perlu juga lah …!
Salah satunya sudah dibocorkan di awal, yaitu kemauan untuk terus bersahabat.
Tapi itu gak akan ada artinya tanpa bahan pengawet yang satu lagi, yakni kepedulian dan perhatian, yang dalam bahasa inggris disebut dalam satu kata: care.

Ada satu pengalamanku yang berhubungan tentang persahabatan, dan menurutku agak lucu.
Ceritanya, aku dan Dian, sohibku sejak kelas 5 SD ketemu sama temen SD kami saat kami hampir lulus SMA. Kebetulan, teman kami ini dianugerahi kecerdasan di atas rata-rata sehingga dia bisa lulus SMA sebelum waktunya dan lebih dulu jadi mahasiswa. Seneng rasanya ketemu lagi setelah lama gak ketemu, trus, pastinya kita langsung ngobrol ke sana kemari.

Di tengah obrolan, tiba-tiba temen lama kami itu nyelutuk yang isinya kurang lebih gini, “Ih, hebat, ya kalian! Bisa terus bersahabat sejak SD dan masih awet sampe sekarang walaupun udah beda sekolah! Coba liat, deh aku! Aku gak punya sahabat yang bisa tahan lama kayak kalian. Padahal, aku pengen, lho bisa kayak kalian …!”

Aku dan Dian yang dikatain gitu cuma saling berpandangan sambil mesam-mesem. Kembang kempis, deh ni hidung saking seneng dan bangganya.
Dia juga sempet nanya apa resepnya supaya persahabatan tetap awet. Waktu itu kami bingung kudu jawab apa. Ya kami bilang, kami jalan gitu aja. Ya emang bener, sih!

Kemudian, obrolan pun diteruskan. Kami yang mau masuk kuliah ini jadi banyak nanya-nanya soal dunia perkuliahan sama dia. Pas ceritanya sampai di bagian pengumuman hasil ujiannya di kampusnya, dia ngomong yang kurang lebih gini, “Setelah aku lihat di pengumuman kalo aku lulus, ya sudah. Gak tau, deh sama anak-anak yang lain, mereka lulus ato gak. Aku gak peduli.” Dia bilang gitu sambil ketawa.

Mendengar itu, aku cuma bisa ketawa dalam hati karena detik itu juga aku langsung tahu kenapa dia gak pernah punya sahabat.

Kepedulian dan perhatian itu kan salah satu bentuk rasa sayang kita sama sahabat. Kalau kamu udah gak peduli sama sahabatmu, artinya rasa sayang kamu patut dipertanyakan. Kalau gitu, buat apa kamu bersahabat kalau sudah saling tidak mempedulikan lagi?

Emang, sih perhatian kita itu kadang juga disalahartikan oleh sohib kita yang berbeda jenis kelamin dengan kita. Misalnya, nih, aku kan cewek, trus punya sohib cowok. Kadang aku takut perhatianku disalahartikan sama dia.

Yah, kalo salah sangkanya cuman dia jadi mikir kalo aku naksir dia, sih masih mendingan. Lha, tapi kalo dia pikir kita terlalu bawel atau terlalu ngurusin atau ikut campur urusan dia, trus dia gak terima, trus marah, trus gak mau temenan lagi, gimana, dong?! Repot, deh!

Padahal, nih, ya, kalo toh aku jadi terkesan bawel dengan banyak nanya, negur, atau nasihatin dia, itu karena aku sayang dan khawatir sama keadaan dia. Apalagi kalau dia jauh dari kita dan kita udah hampir gak pernah ketemu lagi secara fisik sama dia. Wajar, kan, kalo kita khawatir?! Secara, yang namanya anak cowok, kelakuannya lebih neko-neko dan aneh-aneh ketimbang yang cewek. ‘Tul, tho?!

Paling gak enak rasanya kalo berantem ma sohib sendiri. Apalagi kalau kesalahan itu datang dari kita. Minta maaf memang satu-satunya jalan. Tapi, memang gak semua orang bisa nerima permintaan maaf gitu aja. Padahal, sekali lagi, nih, gak pernah ada niat untuk nyakitin sahabat kita sendiri. Tapi, yah, yang namanya manusia, kadang khilaf dan menggunakan cara yang salah untuk menunjukkan perhatian ke sahabat kita.

Sampai kapan pun, aku gak akan menyesal pernah kenal dengan sahabat-sahabatku. Baik, yang masih akrab sampai sekarang, atau yang sudah gak deket lagi. Wajar, sih. Ya kalo keinginan untuk mempertahankan persahabatan itu hanya datang dari satu pihak, memang sulit. Tapi itu pilihan masing-masing, gak bisa dipaksakan. Kalau dia gak mau, kita cuman tinggal terima dan maklum. Kalau dipaksa, yang ada ntar dia malah makin ilfil dan menjauh.

Sebenernya berat untuk bilang kalau kita sudah kehilangan sahabat kita, karena buat aku, mereka itu harta berharga yang harus terus dipertahankan. Karena ulah merekalah hidupku jadi penuh warna. Tawa, tangis, teriakan, kejar-kejaran. Tanpa mereka, warna-warna yang aku miliki akan berkurang dan menjadi tidak secerah sebelumnya. Selain itu, gak ada yang bisa janji, kalau aku kehilangan sahabatku, bakal ada pengganti yang bisa mengisi tempatnya. Tidak semudah itu.

Buat semua sahabat-sahabatku, kalau toh suatu saat kita gak akan ketemu lagi, tolong jangan pernah lupa, ya, kalau dulu kamu pernah punya seorang Tyas yang pernah deket dan punya tempat di hati kamu, walau mungkin cuma sebentar dan sedikit.
Sama seperti aku yang gak akan melupakan semua ulah kalian dan terlebih lagi semua perhatian dan kebaikan kalian buat aku.

Take care of yourself whatever you do, because there aren’t many people as special as you.
I’ll always loving you, My Best Friends! ^_____^


Responses

  1. jadi kapan nikah? *lho*

    *melanjutkan percakapan absurd di fesbuk*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: