Oleh: Fathiya Nazihah | 2 Juni 2009

Kalau Bisa Dirasakan, untuk Apa Dikatakan?

Aku sering tanya-tanya ma ortuku tentang banyak hal (maklum, aku ini mank jenis manusia yang punya terlalu banyak pertanyaan, kadang), termasuk tentang gimana waktu mereka muda. Mereka biasanya akan dengan senang hati menceritakannya, terutama ibuku. Aku akan dapat banyak cerita. Mulai dari gimana susahnya hidup mereka waktu kecil, masa remajanya, sampai masa-masa awal pernikahan. Ada banyak pelajaran di sana.

Suatu hari, aku pernah iseng nanya, “Bu, gimana, sih waktu Ibu sama bapak pacaran dulu?” Pertanyaanku itu disambut dengan gelak tawa ibuku dan dilanjutkan dengan senyum (agak) malu-malu.

Katanya, dulu, karena mereka tetanggaan (waktu itu bapak udah kerja dan tinggal di mess karyawan yang letaknya di samping rumah ibu), mereka sering berangkat bareng. Ibu berangkat kuliah, bapak berangkat kerja. Hampir setiap hari kaya’ gitu. Kadang-kadang juga diajak nonton di bioskop, trus pulangnya makan di warung pinggir jalan.

Aku tanya lagi, “Sejak kapan pacarannya? Trus, berapa lama pacarannya sebelum akhirnya nikah?” Ibu jawab, gak tau, gak tau pastinya kapan mereka mulai pacaran. Yang jelas, katanya, waktu itu ibu merasa kalau laki-laki itu (bapak) sayang sama ibu, dan ibu juga merasa kayak gitu, dan semuanya berjalan kayak gitu aja.

Aku tanya terus, “Ibu tau dari mana kalau bapak sayang sama Ibu? Apa bapak pernah bilang?” Bapak gak pernah bilang, kata ibu. Bahkan, sampai sekarang bapak gak pernah bilang dengan kata-kata yang vulgar sebangsa ‘aku sayang kamu’, aku cinta kamu’, dsb. Gak kayak anak sekarang, kata ibu.

“Trus, kenapa Ibu bisa seyakin itu kalau bapak sayang sama Ibu?” Keyakinan yang entah kenapa bisa begitu aja benar dalam kenyataannya. Jujur aja, aku gak habis pikir waktu itu. Apa ibu gak takut kalau apa yang dirasakannya itu salah? Apa ibu gak takut kalau ternyata bapak gak punya perasaan yang sama ke Ibu?

“Rasa sayang itu bisa kita rasakan, Tyas … Kita bisa tau dari sikapnya, cara bicaranya, perhatiannya, caranya memperlakukan kita, yang itu gak bisa dijelaskan bagaimana pastinya. Rasa sayang itu gak harus diungkapkan dengan kata-kata. Kata-kata itu bisa dibuat, bisa aja dusta. Justru lewat perilaku, bentuknya akan lebih nyata, sulit untuk dibuat-buat.

Aku udah gak bisa ngomong apa-apa lagi waktu ibu jawab kayak gitu.

Menurut cerita ibu, bapak itu emang hampir gak pernah ngerayu ibu. Bahkan sampai sekarang, sampai pernikahan mereka hampir memasuki usia yang sering disebut orang ‘kawin perak’, bapak gak pernah ngegombalin ibu. Padahal, yang namanya perempuan, sangat wajarlah kalau kepingin disayang-sayang, dirayu, dipuji-puji, disanjung-sanjung sama suaminya. Ibu pernah tanya sama bapak, kenapa bapak gak pernah ngerayu ibu. Katanya, bapak bilang, buat apa ngomong-ngomong gitu (ngerayu, maksudnya)?! Orang yang banyak ngerayu itu banyak dustanya!

Gak salah juga, sih. Soalnya, gak sedikit orang yang suka gembar-gembor ‘aku sayang kamu’, ‘aku cinta kamu’ tapi gak ada isinya! Gak ada buktinya! Gak ada tindakan konkretnya! Alias omdo (omong doank), atau omong kosong, or yang rada kasar dikit, bullshit!

Ada kejadian lucu. Pertama, ibu pernah cerita kalo dulu, bapak pernah bilang kurang lebih kayak gini, “Yaaa … seperti inilah kalau jadi pacarku. Aku gak bisa memberi kamu banyak hadiah seperti orang-orang …” Trus ibu nyelutuk dalam hati, “Oooh … jadi aku ini pacarnya, toh …”

Hehehehehehehe … lucu aja! Secara, bapak gak pernah ‘nembak’ ibu, atau bilang, ‘sejak saat ini kita pacaran’, dsb. Mereka kenal, trus dekat, dan itulah yang namanya pacaran, menurut mereka.

Ada lagi, iseng, di hadapan kami, anak-anaknya, ibu pernah terang-terangan minta dirayu sama bapak. Awalnya bapak cuman diem sambil mesam-mesem. Padahal kami udah menatap bapak dengan berbinar-binar penuh harap. Secara, kami gak pernah liat yang namanya bapak sama ibu mesra-mesraan, hehehehee … Akhirnya setelah lama didesak-desak, kami berhasil juga. Bapak berlutut di depan ibu dan kedua tangannya agak diangkat, memberikan kesan sedang menyanjung, trus meluncurlah dari bibirnya kata-kata yang kurang lebih, kalo gak salah kayak gini, “Oh, Dewiku …! Dirimu begitu cantik, bagaikan bidadari yang turun dari khayangan!”

Hahahahahahahahahaha … sontak, kami satu rumah langsung tergelak! Kami tau, bapak itu bukan tipe orang yang romantis. Jadi, ya kami kaget, ternyata bisa juga kata-kata macam itu meluncur dari lisannya. Ibu sampe nyelutuk, “Nah, itu bisa aja ngerayu …!”

Hehehehehehe … ada-ada aja, ya aku punya ortu! Sebenernya, aku gak terlalu inget gimana kalimat lengkapnya rayuan bapak itu. Tapi aku tau, aku gak mungkin salah di bagian ‘bagaikan bidadari yang turun dari khayangan’. Hehehehehehehehe …

Awalnya aku gak terlalu ngerti ma omongan ibu pada paragraf yang ada kalimat yang kucetak tebal itu. Agak-agak kurang terima, malah. Ya soalnya, kesannya gak ilmiah banget, gitu! Tapi anehnya, hasil dari keyakinan itu akurat!

Akhirnya, sedikit-sedikit, pelan-pelan, aku mulai ngerti apa maksud ibu setelah aku sendiri dipapar dengan kejadian-kejadian gak enak yang bikin aku mikir, lalu mulai belajar.

Ternyata rasa sayang itu memang bisa dirasakan tanpa harus dikatakan. Bahkan kita juga bisa mengukur sebesar apa dan seperti apa bentuk rasa sayang orang itu ke kita. Maksudnya, kita bisa tau begitu aja kalo orang itu nganggap kita cuman sebagai teman biasa, teman baik, sahabat, atau naksir ma kita, tanpa orang itu bilang langsung ke kita.

Tau begitu aja?

Iya. Tau begitu aja.

Misalnya kek aku ma sohib-sohibku. Kami kenal dan berteman, sejak SD, sejak SMP, lalu dekat sampai menurut orang-orang, kami pantas disebut sahabat. Kami gak pernah memproklamirkan diri sebagai sahabat sebelum orang-orang menyebut kami bersahabat (setelah kami tau, bahwa ‘sahabat’ itu berbeda dengan ‘teman’). Kami juga gak pernah bilang ‘sayang’ sebagai sahabat, sebelum kami sadar bahwa kami bersahabat. Di luar semua kesadaran itu, kesadaran bahwa kami adalah sahabat, kami merasa cocok satu sama lain, merasa ada yang kurang kalau yang lain gak ada, merasa prihatin kalau yang lain lagi susah.

Begitu juga kalo kita lagi jatuh cinta, atau dijatuhi cinta oleh orang lain (baca: ditaksir orang). Kita bakal tau kalau ada orang yang naksir ma kita sebelum akhirnya dia bilang ato gak bilang sama sekali ke kita. Kita pasti tau. Entah kita deket atau gak ma dia. Kita pasti bisa tau. Terlebih, kalau kita sebelumnya uda deket ma dia. ‘Gejala’ itu akan semakin mudah dibaca.

Mengapa?

Karena, menurut riset (hasil penelitian pribadi), sebagian besar, sekitar 97% orang yang sedang jatuh cinta, akan bersikap ‘aneh’ ke orang yang dicintainya. Maksudnya, jadi lebih aneh dan beda daripada biasanya.

Jadi, kudu ati-ati, nih kalo lagi naksir orang! Sebenernya, itu juga jadi peringatan buat diri sendiri, sih … Hehehehe …

Lalu, apa salahnya mengatakan?

Gak salah, sih … sebenernya tergantung individunya masing-masing. Tapi, kalo kamu belum siap untuk berkomitmen (menikah.red), buat apa kamu bilang? Toh, orang yang kamu cintai saat ini belum tentu jadi pasangan hidupmu, kan?

Nah, kalo kamu uda nikah, boleh deh tueh mengeluarkan kata-kata mesra ke pasangan kamu. Udah halal, soalnya, dan jadi pahala! Hehehehe … Rumah tangga tanpa kata-kata mesra tueh kurang greget juga jadinya (sok tauuuuuuuuu … kek yang udah nikah aja! Hehehehe …). Jadi, kata-kata cinta, sayang, kangen, itu ibarat suplemen kalo dalam sebuah pernikahan. Kalo belum nikah? Hati-hati, bisa ngotorin hati, lho …!

Jadi, buat yang belum nikah n lagi jatuh cinta, gak perlu bingung merangkai kata-kata demi sebuah ‘penembakan’ atau pengungkapan isi hati. Tanpa kamu katakan pun, insya Allah, dia pasti uda tau. Apalagi, kalo kamu juga uda deket ma dia. Jalani aja.

Kalau bisa dirasakan, untuk apa dikatakan?

Akan tiba waktunya untuk mengatakan itu. Itu pasti akan jadi moment terindah. Sabar aja, deh menunggu datangnya kesempatan itu. Allah tau kapan waktu yang tepat.

^_______________^


Responses

  1. -setuju dengan ungkapan itu tapi kan ada orang yang peka to nduk. Kita udah mulat-mulet gak punya duit, eee bonus gak dikeluarkan.yaaaa terpaksa dikatakan ” Bos…bonusnya kok belum keluar ya ”
    -very nice article.
    -salam

    • @Abdul Cholik
      Wah, kalo itu, mank harus dikatakan, tho, Pak!
      kalo gak, bisa nelongso juga …
      HeheheE …
      Blog Bpk saya link, ya …!

  2. Hi hi hi, waktu kamu cerita itu dulu lucu banget deh kayaknya ^^

    Inget kata-kata di suratmu yang terakhir…

    • @Fairuz
      Surat?
      Yg mana?
      Yg bagian mana?

      Hahahahaaaa …
      Saking banyaknya surat kita …

  3. like this…

    bahkan very like this…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: