Oleh: Fathiya Nazihah | 20 Mei 2009

Aku ini …

Aku ini cuma seseorang yg tidak pandai menghargai diri sendiri, kata teman-temanku.
Yah, karena memang tak kutemukan yg istimewa di diriku.
Beruntungnya aku, aku punya orang2 di sekelilingku yg tahu bagaimana menghargai aku.

Aku ini cuma orang yg banyak tanya.
Tak semua hal yg kupertanyakan bisa kuutarakan.
Lebih banyak yg kusimpan.
Kadang karena memang tidak akan kutemukan jawabannya.
Kadang juga hanya karena tidak ada nyali menyampaikannya.
Pertanyaanku kebanyakannya sederhana,
tapi menyebalkan, seperti yg sering Ibu bilang.
Sebenarnya bukan pertanyaan sulit.
Hanya butuh keberanian utk berterus terang.

Aku ini cuma orang yg punya terlalu banyak mimpi.
Begitu banyaknya, sampai aku bingung utk memutuskan yg mana yg harus kukejar.
Akhirnya, sebagian besar mimpiku tetap menjadi mimpi,
tanpa ada harapan utk menjelma realita.
Adalah cita-cita, mimpi yg melahirkan usaha utk mengubahnya jadi nyata.

Aku ini cuma orang dgn warna hitam, putih, abu-abu, dan biru.
Adalah keluarga, saudara, sahabat, teman-teman yg menyumbangkan lebih banyak warna dalam hidupku.
Ada merah, hijau, ungu, jingga, bahkan merah jambu.

Aku ini cuma sesosok makhluk ringkih yg selalu berusaha terlihat gagah.
Bahuku, tempat mereka bersandar dan menangis, tak sekokoh yg mereka kira.
Yah, karena akulah Sang Pertama.
Sang Pembuka yg harus selalu ada utk mereka.
Sebenarnya aku pun menunggu
yg mana bahu untukku.

Aku ini cuma gadis kasar yg benci dikasari.
Setajam apa pun lidahku, sekeras apa pun tikamanku,
tak akan kulakukan
Sebelum hatiku yg robek lebih dulu.
Atau tergores, atau patah, atau berdarah.

Aku ini cuma seorang anak yg tak pandai mengabdi.
Hanya selalu berusaha.
Tapi usahaku tak pernah berbuah sempurna.
Hatiku menangis saat harus mengakui bahwa usahaku gagal lagi.
Kata temanku, air mata yg menetes ke hati
rasanya jauh lebih sakit dibanding menangis sekeras apa pun.
Sesering apa hatiku menangis, sesering itu aku mencoba.
Akan selesai saat hatiku tak menangis lagi.
Saat ia bisa tersenyum puas pada mereka.
Saat usahaku berbuah sempurna.

Aku ini hanya hamba tak tahu diri
yg ingin selalu disayang Tuhannya.
Tapi aku tak pandai membuktikan kecintaanku pada-Nya.


Responses

  1. baru di post ney kayaknya,,, heee…

  2. jangan terlalu meremehkan diri sendiri,, syukuri menjadi diri sendiri… karena msih banyak di luar sana yg tidak seberuntung dirimu…

    • @Sophia
      Gak kuq …
      Tue cuman lagi kumat melow-nya aja …
      HeE …

  3. setuju sama yg diatas..

    gw juga sering merasa hal seperti itu..

    tp.. klo kita meremehkan diri sendiri, berarti kita meremehkan ciptaan Allah yang paling sempurna..

    salam kenal…

    (themes kita sama loh..)

    • @Qie
      Owh, sama ya?
      HeE …

      Salam kenal juga …

      Sebenernya tue tulisan yg telat di-posting-in.
      Cuman, sayang aja gak di-post.
      Akhirnya di-post juga deh …

  4. Bahu ini memang tak bisa ada untukmu, karena jarak yang membentang lebih dari jangkauan tangan. Tapi bukankah di sana, ada “mereka” yang siap menjadi tong sampah tak nyaring bunyinya?

    Nobody’s perfect, honey….
    Jikapun warnamu hanya hitam, putih, abu-abu dan biru. Mereka berempat juga mewarnai kehidupan orang lain yang tidak memiliki empat warna itu… :)

    • @Fairuz
      But they’re not U!

      • Aah… so u miss me, eh? =D

      • @Fairuz
        Dasar retoris!

  5. Tyas banget…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: