Oleh: Fathiya Nazihah | 6 Maret 2009

Bagaimana Menjadi Dewasa

Aku percaya saat semua orang mengatakan bahwa kedewasaanku melebihi umurku.

Tapi aku benar-benar tak percaya saat aku sadar bahwa aku menangis hanya karena terantuk batu.

Hanya sebuah batu.

Batu kecil yang menyebabkan aku harus menangis dan terluka.

Kemudian, aku belajar, bahwa menjadi dewasa bukanlah bagaimana aku menasihati orang dengan kalimat sebijak mungkin, tapi bagaimana aku bersikap saat masalah mengurungku dan hanya aku yang bisa mendakinya untuk mencapai tempat yang lebih tinggi.


Responses

  1. … … …
    err… how should I respon by the way? :mrgreen:

  2. Hahaha …
    Tapi coba renungkan sebentar.
    Aku mank kek gt koq! ^.^

  3. Setuju mbak… tapi setiap orang pasti menangis agar ada penyesalan untuk berbuah perubahan yang lebih baik, menuju pendewasaan diri…
    lam kenal yach…

    • @Arya
      Setuju …
      Untungnya sekarang saya sudah bisa nangis.
      Salam kenal juga …

  4. Yas, dapet PR, ambil di blog-q! Awas ga dikerjain, geheheh… :D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: