Oleh: Fathiya Nazihah | 15 September 2009

Talking-talking about Persahabatan

Hai
Aku tidak akan menanyakan kabarmu
karena aku tidak tertarik untuk mengetahuinya

Aku hanya ingin mengatakan bahwa
kami
Aku dan mereka
Sangat menyayangimu

Dan akan selalu begitu
sampai kapan pun
yang kau tak akan pernah tahu

Hm, bagaimana rasanya punya persahabatan yang usianya berhasil bertahan sampai angka 10 tahun, bahkan lebih?

That’s amazing! Wonderful! Fantastic, of course!
Bangga. Bahagia, sudah jelas.
Karena tidak semua orang bisa merasakan memilikinya.

Apa persahabatan yang berhasil bertahan selama itu akan berjalan mulus tanpa masalah?
Gak mungkin.

Yang namanya masalah itu adalah suatu keniscayaan dalam hidup manusia. Apalagi dalam berhubungan dengan orang lain, sudah pasti akan ada masalah. Yah, namanya juga beda kepala.

Masalahnya, hanya tinggal bagaimana kita menyikapi masalah itu.
Apakah kita akan menganggapnya sebagi pemisah atau bahkan pemutus hubungan dengan sahabat kita, atau kita cuma menganggap itu sebagai duri kecil yang menusuk kaki saat kita berjalan bersama sahabat kita?

Kalau menurutku, sih, itu hanya tinggal tergantung pada kemauan. Apa kita masih mau mempertahankan persahabatan kita, atau kita hanya akan membiarkannya kandas begitu saja setelah bertabrakan dengan masalah?

Menurutku lagi, kemauan itu akan muncul dengan sendirinya setelah ada keterikatan hati satu sama lain.

Nah, yang namanya keterikatan hati ini yang agak sulit dijelaskan. Itu semacam rasa nyaman dan cocok dalam berinteraksi dengan orang lain. Kita bisa merasakan apa yang dia rasakan. Saat dia terluka kita juga merasa sakit, dan bisa ikut bahagia saat dia bahagia.
Dalam bahasa sosiologi dan psikologinya, sih itu biasa disebut empati.
Tapi kayaknya, keterikatan hati yang aku masud ini lebih dari itu, deh! Soalnya saat sudah memiliki keterikatan hati, kita juga sering bisa menebak apa yang sedang disembunyikan di dalam hati sahabat kita. Bahkan, gak jarang juga kita bisa menebak apa yang akan terjadi dengannya beberapa saat kemudian.

Jadi mirip fortune teller, ya! Hehehe …
Eh, tapi itu beneran, lho! Aku gak akan lancang bilang kayak gitu kalo aku gak pernah merasakannya sendiri.

Memang, yang namanya cocok itu gak bisa dipaksakan. Kamu gak akan bisa memaksa dua orang yang untuk saling melihat saja sudah tidak suka, untuk bisa menjadi sepasang sahabat.

Menjadi cocok juga tidak harus menjadi sama.
Misalnya, jika sahabatmu piawai bernyanyi, kamu tidak harus juga bisa bernyanyi. Atau saat sahabatmu punya hp baru, kamu juga tidak harus mengganti hpmu menjadi sama seperti hp baru temanmu. Atau kamu juga gak perlu memaksakan diri untuk suka baca buku atau nonton film setelah kamu tahu bahwa sahabat-sahabatmu suka baca buku dan nonton film, kalau memang kamu gak suka. Atau saat sahabat-sahabatmu berhasil masuk ke sekolah favorit sedangkan kamu sendiri yang gagal, kamu juga tidak harus memaksakan diri untuk bisa bersekolah di sekolah yang sama dengan sahabat-sahabatmu kalau memang kamu tidak sanggup. Soalnya, percaya aja, kalau kamu yakin bahwa persahabatan kalian itu memang kuat, jarak dan waktu gak akan bisa berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan bahwa keterikatan hati kalian gak akan longgar.

Intinya, kamu gak perlu merasa rendah diri, atau bahkan yang lebih parah lagi, merasa tidak pantas untuk terus bersahabat dengan sahabat-sahabatmu saat kamu merasa berbeda dari mereka.

Justru bersatunya perbedaan dalam persahabatan itu yang menjadikannya indah dan pantas untuk dipertahankan.
Seperti pelangi.
Coba bayangkan jika pelangi hanya terdiri dari satu warna. Misalnya merah saja, atau hijau saja. Pelangi itu tidak akan seindah pelangi yang biasa kita lihat sejak kecil.
Paling-paling cuma orang yang suka warna merah yang akan mengatakan bahwa pelangi merah itu indah, dan pelangi yang berwarna hijau hanya akan terlihat indah bagi mereka yang menyukai warna hijau.
Harus diakui, keberagaman warna yang dimiliki pelangi itu yang menjadikannya terlihat cantik.

Itulah kenapa ada sekelompok sahabat yang menamakan kelompoknya “ De Rainbow” (pelangi). Ya karena kepribadian mereka yang berbeda dan unik satu sama lain, tapi mereka bisa tetap terus kompak.

Lalu, apakah awetnya sebuah persahabatan tidak membutuhkan bahan pengawet?
Hehehe … ya perlu juga lah …!
Salah satunya sudah dibocorkan di awal, yaitu kemauan untuk terus bersahabat.
Tapi itu gak akan ada artinya tanpa bahan pengawet yang satu lagi, yakni kepedulian dan perhatian, yang dalam bahasa inggris disebut dalam satu kata: care.

Ada satu pengalamanku yang berhubungan tentang persahabatan, dan menurutku agak lucu.
Ceritanya, aku dan Dian, sohibku sejak kelas 5 SD ketemu sama temen SD kami saat kami hampir lulus SMA. Kebetulan, teman kami ini dianugerahi kecerdasan di atas rata-rata sehingga dia bisa lulus SMA sebelum waktunya dan lebih dulu jadi mahasiswa. Seneng rasanya ketemu lagi setelah lama gak ketemu, trus, pastinya kita langsung ngobrol ke sana kemari.

Di tengah obrolan, tiba-tiba temen lama kami itu nyelutuk yang isinya kurang lebih gini, “Ih, hebat, ya kalian! Bisa terus bersahabat sejak SD dan masih awet sampe sekarang walaupun udah beda sekolah! Coba liat, deh aku! Aku gak punya sahabat yang bisa tahan lama kayak kalian. Padahal, aku pengen, lho bisa kayak kalian …!”

Aku dan Dian yang dikatain gitu cuma saling berpandangan sambil mesam-mesem. Kembang kempis, deh ni hidung saking seneng dan bangganya.
Dia juga sempet nanya apa resepnya supaya persahabatan tetap awet. Waktu itu kami bingung kudu jawab apa. Ya kami bilang, kami jalan gitu aja. Ya emang bener, sih!

Kemudian, obrolan pun diteruskan. Kami yang mau masuk kuliah ini jadi banyak nanya-nanya soal dunia perkuliahan sama dia. Pas ceritanya sampai di bagian pengumuman hasil ujiannya di kampusnya, dia ngomong yang kurang lebih gini, “Setelah aku lihat di pengumuman kalo aku lulus, ya sudah. Gak tau, deh sama anak-anak yang lain, mereka lulus ato gak. Aku gak peduli.” Dia bilang gitu sambil ketawa.

Mendengar itu, aku cuma bisa ketawa dalam hati karena detik itu juga aku langsung tahu kenapa dia gak pernah punya sahabat.

Kepedulian dan perhatian itu kan salah satu bentuk rasa sayang kita sama sahabat. Kalau kamu udah gak peduli sama sahabatmu, artinya rasa sayang kamu patut dipertanyakan. Kalau gitu, buat apa kamu bersahabat kalau sudah saling tidak mempedulikan lagi?

Emang, sih perhatian kita itu kadang juga disalahartikan oleh sohib kita yang berbeda jenis kelamin dengan kita. Misalnya, nih, aku kan cewek, trus punya sohib cowok. Kadang aku takut perhatianku disalahartikan sama dia.

Yah, kalo salah sangkanya cuman dia jadi mikir kalo aku naksir dia, sih masih mendingan. Lha, tapi kalo dia pikir kita terlalu bawel atau terlalu ngurusin atau ikut campur urusan dia, trus dia gak terima, trus marah, trus gak mau temenan lagi, gimana, dong?! Repot, deh!

Padahal, nih, ya, kalo toh aku jadi terkesan bawel dengan banyak nanya, negur, atau nasihatin dia, itu karena aku sayang dan khawatir sama keadaan dia. Apalagi kalau dia jauh dari kita dan kita udah hampir gak pernah ketemu lagi secara fisik sama dia. Wajar, kan, kalo kita khawatir?! Secara, yang namanya anak cowok, kelakuannya lebih neko-neko dan aneh-aneh ketimbang yang cewek. ‘Tul, tho?!

Paling gak enak rasanya kalo berantem ma sohib sendiri. Apalagi kalau kesalahan itu datang dari kita. Minta maaf memang satu-satunya jalan. Tapi, memang gak semua orang bisa nerima permintaan maaf gitu aja. Padahal, sekali lagi, nih, gak pernah ada niat untuk nyakitin sahabat kita sendiri. Tapi, yah, yang namanya manusia, kadang khilaf dan menggunakan cara yang salah untuk menunjukkan perhatian ke sahabat kita.

Sampai kapan pun, aku gak akan menyesal pernah kenal dengan sahabat-sahabatku. Baik, yang masih akrab sampai sekarang, atau yang sudah gak deket lagi. Wajar, sih. Ya kalo keinginan untuk mempertahankan persahabatan itu hanya datang dari satu pihak, memang sulit. Tapi itu pilihan masing-masing, gak bisa dipaksakan. Kalau dia gak mau, kita cuman tinggal terima dan maklum. Kalau dipaksa, yang ada ntar dia malah makin ilfil dan menjauh.

Sebenernya berat untuk bilang kalau kita sudah kehilangan sahabat kita, karena buat aku, mereka itu harta berharga yang harus terus dipertahankan. Karena ulah merekalah hidupku jadi penuh warna. Tawa, tangis, teriakan, kejar-kejaran. Tanpa mereka, warna-warna yang aku miliki akan berkurang dan menjadi tidak secerah sebelumnya. Selain itu, gak ada yang bisa janji, kalau aku kehilangan sahabatku, bakal ada pengganti yang bisa mengisi tempatnya. Tidak semudah itu.

Buat semua sahabat-sahabatku, kalau toh suatu saat kita gak akan ketemu lagi, tolong jangan pernah lupa, ya, kalau dulu kamu pernah punya seorang Tyas yang pernah deket dan punya tempat di hati kamu, walau mungkin cuma sebentar dan sedikit.
Sama seperti aku yang gak akan melupakan semua ulah kalian dan terlebih lagi semua perhatian dan kebaikan kalian buat aku.

Take care of yourself whatever you do, because there aren’t many people as special as you.
I’ll always loving you, My Best Friends! ^_____^

Oleh: Fathiya Nazihah | 20 Juli 2009

MENUNGGU TERANG

Dalam gelap ada kepasrahan

Ada harap tak berujung

demi segurat cahaya

Untuk menyambung hidup

Melanjutkan langkah yang terhenti tapakannya

Demi berhenti meraba ketidakpastian

Dan menemukan pegangan

hingga berani memandang arah

Oleh: Fathiya Nazihah | 22 Juni 2009

Helaan yang Terusik

Rasa lemah menyergap nadi
Lenguhan napas menyiksa hati
Tusukan itu tak bisa dipungkiri
ternyata tak terperi

Gemetar tak tertahan
menggenggam yang tak ada
Koyak saja sakit yang ada
atau menganggapnya tiada

Sulit mempertahankan kesadaran
saat semua bayang datang
Memaksanya tetap hadir
walau harus mengecap getir

Semua yang hadir berakhir
Napas yang terjepit telah pergi

By: Fathiya Nazihah
Bjm, (170609)

Coba tolong Kamu ceritakan di kotak komen, apa yang ada di dalam pikiranmu setelah membaca puisi di atas.
Thank’s before … ^___^

Oleh: Fathiya Nazihah | 22 Juni 2009

Para Penyuka Bakso, Perlu Tahu

Mungkin apa yang jadi isi tulisan ini bukan hal baru. Banyak pembaca yang barangkali sudah tahu, bahkan paham ilmunya. Tapi setidaknya, di sini aku cuma mau berbagi pengalaman dan secuil ilmu yang aku dapat baru-baru ini, yang aku lihat, amati, dengar, dan cari tahu sendiri.

Jadi begini ceritanya. Di kampus, kami (dalam bentuk kelompok, dan setiap kelompok terdiri dari 5 orang) dapat tugas dari dosen mata kuliah Ilmu Bahan Makanan lanjut untuk mengadakan kunjungan ke home industri yang ada di Banjarmasin untuk melihat dan mempelajari bagaimana cara menyimpan dan mengolah makanan. Kemudian, dari sekian banyak pilihan jenis hasil olahan bahan makanan yang ada, pilihan kami jatuh pada bakso.

Mengapa bakso?

Jawabannya sederhana, karena bakso itu enak! Hehehehehehehe …

Yah, siapa, sih yang gak suka bakso? Sebagian besar orang (yang bukan vegetarian) suka bakso. Walaupun bakso juga jadi salah satu pantangan bagi orang-orang tertentu, tapi pasti dari lubuk hatinya yang paling dalam tueh juga sebenarnya suka bakso! Lha wong, kucing sama ayam aja juga suka kok! Hehehehehe …

Nah, sayang kan kalau kita sampai melewatkan gimana cara mengolah daging jadi makanan uenak nan populer ini dalam skala industri rumah tangga (home industri yang kami datangi ini punya tempat dan mesin penggilingan sendiri).

Begini, lho langkah-langkah pembuatannya:
1. Sebelum diolah, daging ditimbang terlebih dahulu. Setelah itu, baru pembuat bakso bisa menentukan seberapa banyak tepung tapioka (kanji) yang akan dicampurkan dengan daging. Mereka menggunakan perbandingan tertentu. Misalnya 5 kg daging dengan 1 kg tepung tapioka. Setiap pembuat bakso punya perbandingan masing-masing. Hal itu tentu akan mempengaruhi cita rasanya. Makin banyak dagingnya dibanding kanjinya, tentu akan makin enak bakso yang dihasilkan.

2. Setelah ditimbang dan sebelum daging digiling dalam gilingan kasar, tidak lupa daging dicampur dengan bumbu-bumbu dan bahan tambahan lain. Memang, selain bumbu-bumbu atau rempah alami, kadang beberapa pembuat bakso menambahkan bahan tambahan lain pada adonan baksonya. Misalnya asam benzoat dan soda kue. Benzoat berfungsi sebagai pengawet, sedangkan soda kue sebagai pengembang. Bahan-bahan tersebut tentu memiliki kadar tertentu yang dibolehkan untuk penggunaannya dalam makanan. Kalau melebihi ambang batas yang diperbolehkan, jangan ditanya lagi, sudah tentu akan menimbulkan berbagai efek negatif terhadap kesehatan kita.

3. Selanjutnya, daging beserta bumbu-bumbunya digiling dalam mesin penggiling kasar.

4. Berikutnya, setelah melewati mesin penggiling kasar, daging dicampur dengan tepung, telur, dan bahan-bahan lainnya.

5. Bahan-bahan untuk membuat bakso itu dibawa dan dimasukkan ke dalam mesin penggiling. Eummm … Mungkin kurang tepat juga kalau disebut sebagai mesin penggiling. Soalnya, kalau dilihat-lihat, mesin itu fungsinya mirip seperti blender yang mencampur dan menghancurkan bahan-bahan tadi menjadi adonan yang teksturnya lebih lembut.

6. Tidak lupa, saat mencampur adonan di dalam mesin, ditambahkan es batu yang cukup. Es batu ini gunanya untuk menjaga suhu adonan dan mencegah terjadinya penggumpalan protein pada daging. Maksudnya begini, saat mesin beroperasi, alat itu akan berputar dengan sangat cepat. Putaran yang sangat cepat itu akan menghasilkan panas. Protein (dalam hal ini, protein dalam daging) yang terkena panas atau mengalami kontak dengan suhu tinggi akan mengalami penggumpalan (koagulasi) dan merusak produk daging tersebut. Dengan kata lain, adonannya jadi rusak karena mateng duluan di dalam mesin penggiling sebelum dibentuk dan direbus. Untuk menghindari terjadinya hal seperti itu, maka ditambahkanlah es batu ke dalam adonannya.

7. Setelah jadi adonan yang lembut (orang di sana menyebutnya “lelehan”), kemudian adonan dibentuk menjadi bulatan-bulatan bakso dan direbus. Lucunya, warnanya berubah, dari pink cantik jadi abu-abu (yang tandanya bakso sudah matang). Kadang ada juga pembuat bakso yang menambahkan pemutih untuk memutihkan baksonya, karena dianggap bakso yang warnanya putih itu lebih bagus. Penggunaan pemutih ini kiranya juga perlu diwaspadai. Apakah dapat merugikan kesehatan atau tidak.

8. Setelah bulatan-bulatan bakso matang, tinggal ditata dengan mie, su’un, dan bahan-bahan pelengkap lainnya bila suka, trus disiram kuah kaldu. Bakso nikmat siap disantap. 

Oleh: Fathiya Nazihah | 2 Juni 2009

Kalau Bisa Dirasakan, untuk Apa Dikatakan?

Aku sering tanya-tanya ma ortuku tentang banyak hal (maklum, aku ini mank jenis manusia yang punya terlalu banyak pertanyaan, kadang), termasuk tentang gimana waktu mereka muda. Mereka biasanya akan dengan senang hati menceritakannya, terutama ibuku. Aku akan dapat banyak cerita. Mulai dari gimana susahnya hidup mereka waktu kecil, masa remajanya, sampai masa-masa awal pernikahan. Ada banyak pelajaran di sana.

Suatu hari, aku pernah iseng nanya, “Bu, gimana, sih waktu Ibu sama bapak pacaran dulu?” Pertanyaanku itu disambut dengan gelak tawa ibuku dan dilanjutkan dengan senyum (agak) malu-malu.

Katanya, dulu, karena mereka tetanggaan (waktu itu bapak udah kerja dan tinggal di mess karyawan yang letaknya di samping rumah ibu), mereka sering berangkat bareng. Ibu berangkat kuliah, bapak berangkat kerja. Hampir setiap hari kaya’ gitu. Kadang-kadang juga diajak nonton di bioskop, trus pulangnya makan di warung pinggir jalan.

Aku tanya lagi, “Sejak kapan pacarannya? Trus, berapa lama pacarannya sebelum akhirnya nikah?” Ibu jawab, gak tau, gak tau pastinya kapan mereka mulai pacaran. Yang jelas, katanya, waktu itu ibu merasa kalau laki-laki itu (bapak) sayang sama ibu, dan ibu juga merasa kayak gitu, dan semuanya berjalan kayak gitu aja.

Aku tanya terus, “Ibu tau dari mana kalau bapak sayang sama Ibu? Apa bapak pernah bilang?” Bapak gak pernah bilang, kata ibu. Bahkan, sampai sekarang bapak gak pernah bilang dengan kata-kata yang vulgar sebangsa ‘aku sayang kamu’, aku cinta kamu’, dsb. Gak kayak anak sekarang, kata ibu.

“Trus, kenapa Ibu bisa seyakin itu kalau bapak sayang sama Ibu?” Keyakinan yang entah kenapa bisa begitu aja benar dalam kenyataannya. Jujur aja, aku gak habis pikir waktu itu. Apa ibu gak takut kalau apa yang dirasakannya itu salah? Apa ibu gak takut kalau ternyata bapak gak punya perasaan yang sama ke Ibu?

“Rasa sayang itu bisa kita rasakan, Tyas … Kita bisa tau dari sikapnya, cara bicaranya, perhatiannya, caranya memperlakukan kita, yang itu gak bisa dijelaskan bagaimana pastinya. Rasa sayang itu gak harus diungkapkan dengan kata-kata. Kata-kata itu bisa dibuat, bisa aja dusta. Justru lewat perilaku, bentuknya akan lebih nyata, sulit untuk dibuat-buat.

Aku udah gak bisa ngomong apa-apa lagi waktu ibu jawab kayak gitu.

Menurut cerita ibu, bapak itu emang hampir gak pernah ngerayu ibu. Bahkan sampai sekarang, sampai pernikahan mereka hampir memasuki usia yang sering disebut orang ‘kawin perak’, bapak gak pernah ngegombalin ibu. Padahal, yang namanya perempuan, sangat wajarlah kalau kepingin disayang-sayang, dirayu, dipuji-puji, disanjung-sanjung sama suaminya. Ibu pernah tanya sama bapak, kenapa bapak gak pernah ngerayu ibu. Katanya, bapak bilang, buat apa ngomong-ngomong gitu (ngerayu, maksudnya)?! Orang yang banyak ngerayu itu banyak dustanya!

Gak salah juga, sih. Soalnya, gak sedikit orang yang suka gembar-gembor ‘aku sayang kamu’, ‘aku cinta kamu’ tapi gak ada isinya! Gak ada buktinya! Gak ada tindakan konkretnya! Alias omdo (omong doank), atau omong kosong, or yang rada kasar dikit, bullshit!

Ada kejadian lucu. Pertama, ibu pernah cerita kalo dulu, bapak pernah bilang kurang lebih kayak gini, “Yaaa … seperti inilah kalau jadi pacarku. Aku gak bisa memberi kamu banyak hadiah seperti orang-orang …” Trus ibu nyelutuk dalam hati, “Oooh … jadi aku ini pacarnya, toh …”

Hehehehehehehe … lucu aja! Secara, bapak gak pernah ‘nembak’ ibu, atau bilang, ‘sejak saat ini kita pacaran’, dsb. Mereka kenal, trus dekat, dan itulah yang namanya pacaran, menurut mereka.

Ada lagi, iseng, di hadapan kami, anak-anaknya, ibu pernah terang-terangan minta dirayu sama bapak. Awalnya bapak cuman diem sambil mesam-mesem. Padahal kami udah menatap bapak dengan berbinar-binar penuh harap. Secara, kami gak pernah liat yang namanya bapak sama ibu mesra-mesraan, hehehehee … Akhirnya setelah lama didesak-desak, kami berhasil juga. Bapak berlutut di depan ibu dan kedua tangannya agak diangkat, memberikan kesan sedang menyanjung, trus meluncurlah dari bibirnya kata-kata yang kurang lebih, kalo gak salah kayak gini, “Oh, Dewiku …! Dirimu begitu cantik, bagaikan bidadari yang turun dari khayangan!”

Hahahahahahahahahaha … sontak, kami satu rumah langsung tergelak! Kami tau, bapak itu bukan tipe orang yang romantis. Jadi, ya kami kaget, ternyata bisa juga kata-kata macam itu meluncur dari lisannya. Ibu sampe nyelutuk, “Nah, itu bisa aja ngerayu …!”

Hehehehehehe … ada-ada aja, ya aku punya ortu! Sebenernya, aku gak terlalu inget gimana kalimat lengkapnya rayuan bapak itu. Tapi aku tau, aku gak mungkin salah di bagian ‘bagaikan bidadari yang turun dari khayangan’. Hehehehehehehehe …

Awalnya aku gak terlalu ngerti ma omongan ibu pada paragraf yang ada kalimat yang kucetak tebal itu. Agak-agak kurang terima, malah. Ya soalnya, kesannya gak ilmiah banget, gitu! Tapi anehnya, hasil dari keyakinan itu akurat!

Akhirnya, sedikit-sedikit, pelan-pelan, aku mulai ngerti apa maksud ibu setelah aku sendiri dipapar dengan kejadian-kejadian gak enak yang bikin aku mikir, lalu mulai belajar.

Ternyata rasa sayang itu memang bisa dirasakan tanpa harus dikatakan. Bahkan kita juga bisa mengukur sebesar apa dan seperti apa bentuk rasa sayang orang itu ke kita. Maksudnya, kita bisa tau begitu aja kalo orang itu nganggap kita cuman sebagai teman biasa, teman baik, sahabat, atau naksir ma kita, tanpa orang itu bilang langsung ke kita.

Tau begitu aja?

Iya. Tau begitu aja.

Misalnya kek aku ma sohib-sohibku. Kami kenal dan berteman, sejak SD, sejak SMP, lalu dekat sampai menurut orang-orang, kami pantas disebut sahabat. Kami gak pernah memproklamirkan diri sebagai sahabat sebelum orang-orang menyebut kami bersahabat (setelah kami tau, bahwa ‘sahabat’ itu berbeda dengan ‘teman’). Kami juga gak pernah bilang ‘sayang’ sebagai sahabat, sebelum kami sadar bahwa kami bersahabat. Di luar semua kesadaran itu, kesadaran bahwa kami adalah sahabat, kami merasa cocok satu sama lain, merasa ada yang kurang kalau yang lain gak ada, merasa prihatin kalau yang lain lagi susah.

Begitu juga kalo kita lagi jatuh cinta, atau dijatuhi cinta oleh orang lain (baca: ditaksir orang). Kita bakal tau kalau ada orang yang naksir ma kita sebelum akhirnya dia bilang ato gak bilang sama sekali ke kita. Kita pasti tau. Entah kita deket atau gak ma dia. Kita pasti bisa tau. Terlebih, kalau kita sebelumnya uda deket ma dia. ‘Gejala’ itu akan semakin mudah dibaca.

Mengapa?

Karena, menurut riset (hasil penelitian pribadi), sebagian besar, sekitar 97% orang yang sedang jatuh cinta, akan bersikap ‘aneh’ ke orang yang dicintainya. Maksudnya, jadi lebih aneh dan beda daripada biasanya.

Jadi, kudu ati-ati, nih kalo lagi naksir orang! Sebenernya, itu juga jadi peringatan buat diri sendiri, sih … Hehehehe …

Lalu, apa salahnya mengatakan?

Gak salah, sih … sebenernya tergantung individunya masing-masing. Tapi, kalo kamu belum siap untuk berkomitmen (menikah.red), buat apa kamu bilang? Toh, orang yang kamu cintai saat ini belum tentu jadi pasangan hidupmu, kan?

Nah, kalo kamu uda nikah, boleh deh tueh mengeluarkan kata-kata mesra ke pasangan kamu. Udah halal, soalnya, dan jadi pahala! Hehehehe … Rumah tangga tanpa kata-kata mesra tueh kurang greget juga jadinya (sok tauuuuuuuuu … kek yang udah nikah aja! Hehehehe …). Jadi, kata-kata cinta, sayang, kangen, itu ibarat suplemen kalo dalam sebuah pernikahan. Kalo belum nikah? Hati-hati, bisa ngotorin hati, lho …!

Jadi, buat yang belum nikah n lagi jatuh cinta, gak perlu bingung merangkai kata-kata demi sebuah ‘penembakan’ atau pengungkapan isi hati. Tanpa kamu katakan pun, insya Allah, dia pasti uda tau. Apalagi, kalo kamu juga uda deket ma dia. Jalani aja.

Kalau bisa dirasakan, untuk apa dikatakan?

Akan tiba waktunya untuk mengatakan itu. Itu pasti akan jadi moment terindah. Sabar aja, deh menunggu datangnya kesempatan itu. Allah tau kapan waktu yang tepat.

^_______________^

Oleh: Fathiya Nazihah | 25 Mei 2009

Lagi Lagi

Lagi


Hanya dari jauh

Kali ini lebih jauh


Tapi dekat

Lebih dekat dari kali itu


Sama

Juga beda


Tetap bukan di sampingku


Di samping yang di sana

Nampaknya


Lagi


Terlambat sadar

Sadar saat sudah terlambat


Bisa apa?


Diam


Hanya diam

Masih diam

Tetap diam


Lagi


Tidak berubah


Berbahagialah dengan baik

saat ia bahagia


Walau selalu ada dua sisi berlawanan,

bukan tidak mungkin terasa bersamaan


Kenapa?


Karena tak berani

yang samar menjadi jelas


Biar ia mengerti

dengan caranya sendiri

Oleh: Fathiya Nazihah | 20 Mei 2009

Aku ini …

Aku ini cuma seseorang yg tidak pandai menghargai diri sendiri, kata teman-temanku.
Yah, karena memang tak kutemukan yg istimewa di diriku.
Beruntungnya aku, aku punya orang2 di sekelilingku yg tahu bagaimana menghargai aku.

Aku ini cuma orang yg banyak tanya.
Tak semua hal yg kupertanyakan bisa kuutarakan.
Lebih banyak yg kusimpan.
Kadang karena memang tidak akan kutemukan jawabannya.
Kadang juga hanya karena tidak ada nyali menyampaikannya.
Pertanyaanku kebanyakannya sederhana,
tapi menyebalkan, seperti yg sering Ibu bilang.
Sebenarnya bukan pertanyaan sulit.
Hanya butuh keberanian utk berterus terang.

Aku ini cuma orang yg punya terlalu banyak mimpi.
Begitu banyaknya, sampai aku bingung utk memutuskan yg mana yg harus kukejar.
Akhirnya, sebagian besar mimpiku tetap menjadi mimpi,
tanpa ada harapan utk menjelma realita.
Adalah cita-cita, mimpi yg melahirkan usaha utk mengubahnya jadi nyata.

Aku ini cuma orang dgn warna hitam, putih, abu-abu, dan biru.
Adalah keluarga, saudara, sahabat, teman-teman yg menyumbangkan lebih banyak warna dalam hidupku.
Ada merah, hijau, ungu, jingga, bahkan merah jambu.

Aku ini cuma sesosok makhluk ringkih yg selalu berusaha terlihat gagah.
Bahuku, tempat mereka bersandar dan menangis, tak sekokoh yg mereka kira.
Yah, karena akulah Sang Pertama.
Sang Pembuka yg harus selalu ada utk mereka.
Sebenarnya aku pun menunggu
yg mana bahu untukku.

Aku ini cuma gadis kasar yg benci dikasari.
Setajam apa pun lidahku, sekeras apa pun tikamanku,
tak akan kulakukan
Sebelum hatiku yg robek lebih dulu.
Atau tergores, atau patah, atau berdarah.

Aku ini cuma seorang anak yg tak pandai mengabdi.
Hanya selalu berusaha.
Tapi usahaku tak pernah berbuah sempurna.
Hatiku menangis saat harus mengakui bahwa usahaku gagal lagi.
Kata temanku, air mata yg menetes ke hati
rasanya jauh lebih sakit dibanding menangis sekeras apa pun.
Sesering apa hatiku menangis, sesering itu aku mencoba.
Akan selesai saat hatiku tak menangis lagi.
Saat ia bisa tersenyum puas pada mereka.
Saat usahaku berbuah sempurna.

Aku ini hanya hamba tak tahu diri
yg ingin selalu disayang Tuhannya.
Tapi aku tak pandai membuktikan kecintaanku pada-Nya.

Oleh: Fathiya Nazihah | 4 Mei 2009

Gak Jelas ≈ Aneh

Dari awal emang gak pernah jelas.

Temenan, tapi sering berantem.

Gak pacaran, tapi jealous- jealousan.

Gak sedarah, tapi kakak-ade.

Musuhan, ya ujung-ujungnya sama-sama kangen juga.

Payah!

Wajar aja, kalo sampe sekarang tetep gak jelas.

Kalo diliat-liat, sebenernya gak ada masalah.

Mau dibilang bae-bae aja, tapi gak ada kontak.

Gak ada indikasi yang menunjukkan keadaan saat ini sedang “baik-baik” saja.

Bingung?

Iya!

Aneh?

Jelas!

Bukannya gak dicari tau.

Sudah.

Tapi ketemu jalan buntu.

Sudah gak ada petunjuk.

Bosan rasanya berusaha mengurai abu-abu menjadi cerah.

Lelah rasanya melerai kalimat-kalimat yang berseliweran dan bertabrakan satu sama lain di kepalaku.

Ya sudahlah!

Biarkan saja!

Ya biarkan saja tetap aneh.

Gak jelas.

Ya kalo gak mau dianggap aneh, anggap aja semua itu cuman fenomena alam biasa yang bisa aja terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Ya tho?

Tapi satu hal yang aku tahu pasti.

Kami saling menyayangi.

Atau seenggaknya, kami pernah saling menyayangi.

Walau gak pernah ada pernyataan yang tegas dan pasti,

tapi aku bisa merasakannya.

Dan aku tahu, yang aku rasakan itu benar.

Oleh: Fathiya Nazihah | 4 Mei 2009

Apakah Kamu adalah Wanita yang Cantik?

Saat kepikiran tentang “cantik”, aku jadi punya ide menarik; menanyai teman-temanku perihal sebutan khusus untuk wanita itu. Pertanyaannya, sih sederhana aja. “Menurutmu, apa itu cantik?” Jawabannya? Mengejutkan! Berbagai jawaban aku dapatkan dari mereka, dan dari situ pun aku jadi bisa belajar banyak. Wah, ternyata tema yang satu ini menarik juga untuk dibahas.

Pertama-tama, aku beri tahu dulu jawaban-jawaban seperti apa yang meluncur dari bibir manis para wanita.

Dimulai dari jawaban-jawaban yang sederhana aja, seperti, “Menurutku, cantik itu indah …” kata Jaleha.

Atau, “Cantik itu adalah ciri khas yang dimiliki setiap wanita.” ujar Ruseka.

“Cantik itu adalah sesuatu yang indah dipandang mata, terutama bagi para lelaki.” tutur Risa.

Bagi cewek-cewek yang jadi anggota “gang narsis”, jawabannya pasti gak jauh-jauh dari memuji diri mereka sendiri. Hehehe … Misalnya aja kaya’ jawaban yang diajukan oleh teman sebangkuku di kelas XII SMA, Diah Maya Sari. Maya bilang, “Menurutku, cantik itu aku. Jadi jelaskan aja bagaimana aku. Itulah cantik. Hehehe …”

Atau jawabannya Irma Maya Sari ini (entah jodoh apa, koq mereka bisa punya nama yang begitu miriph! hehehE …), “Cantik nurutku, yaaahhh kaya’ aku niy lah…”

Banyak juga yang menganggap cantik itu sesuatu yang ukurannya relatif, tapi masih berbau-bau narsis (mank si narsis tueh baunya kek gimana, seyh ya???).

“Cantik itu … ya kaya’ Oyin ini! Hwaha … Cantik itu indah … Nyaman dilihat … Tapi cantik itu bersifat relatif …” gitu kata Oyin.

Ada lagi nih dari Rini, “Cantik itu indah … Cantik itu relatif … Semua orang itu cantik … Tinggal bagaimana orang itu mempergunakan kecantikan yang ada. Tapi yang terpenting itu kecantikan dari dalam diri. Kalo orang itu cantik tapi dalamnya buruk, tetap aja gak cantik ….” Awalnya, sih memang terkesan serius, tapi ujung-ujungnya, “….Ya yang kaya’ aku ini lah yang namanya cantik tuh, hehehe …” tetep aja narsis! Hehehe …!

Lain lagi makna cantik buat Sella, ”Cantik itu, bersih hatinya, bersih pikirannya, bersih kulitnya. Hehehe …”

Ada juga, Nova, salah satu temenku di kampus yang waktu dikasi pertanyaan itu sempet bikin aku terpana ama jawabannya. Jawabannya kira-kira gini, “Cantik itu cuma sebuah objek. Yang menentukan seorang wanita itu cantik atau gak adalah aura positif yang keluar dari dirinya. Kalo seorang wanita merasa bahwa dirinya cantik, maka ia akan terlihat cantik.” Mantep gak tuh jawabannya? Sayangnya, ujungnya gini, “Tapi itu aku baca di majalah juga siiih … hehehe …”. Hyaaaaahhh … Itu sih namanya bukan pendapat sendiri, Mbak!

Trus, aku jadi inget pendapat salah satu temen SMA-ku tentang gimana cewek yang cantik itu. Namanya Noor Fakhriani, kami biasa manggil dia Ani. Ani bilang kurang lebih gini, “Sebenernya semua cewek itu fitrahnya cantik, Yas … Tinggal bagaimana mereka merawat diri mereka supaya tetap cantik.”

Dia jawab gitu waktu aku tanya ma dia apa aku ini termasuk cewek yang cantik atau gak. Hmh, jawaban yang diplomatis untuk pertanyaan sederhana yang membuat orang lain terpojok atas pertanyaanku itu (abisnya, mo jujur dibilang gak cantik, ntar tersinggung, mo dibilang cantik, ntar jadi fitnah! HeheE …). Gara-garanya, aku gak pernah merasa kalo aku ini cantik, jadi rasanya ko’ gak ada alasan bagi cowok buat suka ma aku. Jadi takut susah dapet jodoh. Hahaha … pemikiran konyol kaya’ gitu mank gak bisa dipungkiri, kadang-kadang melintas juga di kepala.

Beralih ke jawaban Dian. Setelah bernarsis ria di awal smsnya, sohibku sejak kelas 5 SD ini ngasi jawaban yang bikin inbox-ku penuh.

“…. Cantik itu berarti bikin orang lain ngerasa nyaman. Misal, cantik dari segi FISIK (bisa berupa wajah cantik atau bodinya yang bagus). Cantik dalam artian ini bikin MATA orang lain ngerasa nyaman waktu NGELIAT dia. Beda ma cantik dari segi PERSONALITY atau kepribadian (sifat-sifat positif, seperti supel, bertanggung jawab, mandiri, dll). Cantik dalam artian ini bisa bikin orang lain yang berINTERAKSI secara SOSIAL ma dia ngerasa nyaman menjalani interaksi itu.”

Waduh, bahasanya udah kaya’ dosen sosiologiku aja! Hehehe … Tapi, jawaban Dian ini termasuk jawaban yang menurutku bagus. Dia memberikan penekanan yang jelas pada bagian yang ingin ditonjolkannya agar orang lain lebih mengerti maksudnya. Bener, kan?

Nah, sekarang, pasti pengen tau dunk gimana jawaban dari makhluk yang paling memuja kecantikan wanita (baca: cowok) untuk pertanyaan itu. Sekali lagi, jawaban sederhana yang maju lebih dulu. “Menurutku, cantik itu sesuatu yang indah dan enak dilihat … Tapi yang jelas, cantik itu bukan calon anak itik, hehehe …” (?????) gitu kata Alan.

Jawaban dari Ziqan atau Rizqan (nama sebenarnya.red) lebih singkat lagi. “Cantik=suatu keindahan yang diberikan dan harus disyukuri.”

Ryan juga memandang kecantikan sebagai sesuatu yang relatif. “Cantik itu sesuatu yang indah dilihat dan membuat yang memandang terpesona. Tapi relatif, gak bisa diukur hanya dari satu sudut pandang saja! Tergantung siapa yang ngeliat.”

Ada juga jawaban yang rada-rada abstrak dari Wahid, “Cantik itu suatu anugerah dan gak bisa dijelaskan dengan kata-kata.”.

Trus, jawaban dari Aidi malah bikin bingung, sebenernya dia tau ato gak sih apa itu cantik? Jawabannya gini, “Nah … Aku gak tau … Soalnya itu biasanya refleks setelah melihat orang yang dipandang, apakah orang itu cantik atau gak … Hehe …” Bener, kan, bikin bingung?! Hehehe …

Abank Dhoni malah nyebutin nama mantan pacarnya sambil sesengukan waktu ditanya “Apa itu cantik?”. Katanya, “Cantik itu ya … G* L**** ******a … Hiks3 …” disensor demi menjaga privasi narasumber, hehehe …

Nah, jawaban dari Husein, cowok pertama di kampus yang aku tanyain tuh gini, “Cantik itu suatu paras yang indah, memesona, dan menimbulkan daya tarik tersendiri yang bikin kita gak pernah bosan melihatnya.” Cieeeeee … cie cie cieeeeee … Bisa ditebak, keknya Si Husein nih pinter ngerayu cewek kalo diliat dari kosa kata yang dikeluarkannya itu, apalagi kalo kalian, para pembaca, bisa denger sendiri nada suaranya waktu bilang gitu. Hahaha …

Oh, iya! Pernyataan Hanafi yang membahas tentang seperti apa cewek yang cantik itu, bener-bener di luar dugaan. Maksudnya, aku gak nyangka kalo ternyata dia bisa ngejawab kaya’ gitu, hehehe … Jawabannya tueh kira-kira gini, “Setiap orang itu cantik dengan dirinya masing-masing (parasnya, perilakunya, kebiasaannya, dll). Ini hasil penelitianku, gini-gini aku udah banyak makan asam garam, hehehe …” Jawaban itu berlanjut, karena aku nanya lagi. Tapi aku udah lupa, aku nanya apaan waktu itu ( “-_- ), yang jelas jawaban lanjutannya itu gini, “Semua kriteria itu ada pada semua orang, cuman kadarnya aja yang berbeda, tinggal gimana orang itu menampilkannya …. (kalimat berikutnya dipotong, demi menjaga privasi penulis – hehehe …). Truz, aku nanya, apa yang jadi ukuran untuk kriteria-kriterianya itu? Hanafi jawab lagi gini, “Yang jadi ukuran tiap orang untuk menilai orang lain itu berbeda-beda. Itu gak bisa dijelaskan.”

Ketua BEMku pun gak luput dari pertanyaanku itu. Kak Murjani or MJ (begitulah panggilannya) menjawab dengan lebih spesifik. Dia ngebedain pengertian secara umum dan khusus. Gini jawabannya, ”Cantik adalah hal yang indah, bagus, memesona, membuat hati tenang, dan suka melihatnya. Kalo itu artinya secara umum. Arti khusus itu tergantung dari pengertian masing-masing aja. Dilihat dari dalem bagus, cantik. Dilihat dari luar indah, bagus, bungas, itu cantik luarnya.” Jujur aja, aku rada bingung ma susunan kalimatnya. Tapi maksudnya tetap bisa ditangkep ko’.

Satu lagi, ada jawaban dari Angga. Awalnya dia rada bingung gimana ngejawabnya, mengingat betapa relatifnya ukuran cantik itu. Tapi akhirnya dia jawab gini, ”….Masalahnya, cantik itu relatif, tergantung seseorang memandang cantik itu sendiri. Tapi kalo boleh berpendapat, cantik itu gak cuman dipandang dari parasnya. Kalo ”segumpal daging” dalam dirinya itu kotor+jelek, cantik yang terlihat tueh gak ada artinya, bakalan redup dengan sendirinya. Tapi kalo yang di dalamnya itu baik, insya Allah itu bakalan kelihatan sampe keluar … dan itu yang bikin cantik di luarnya bersinar …” Dia mengutip hadis dari Rasulullah SAW, soal segumpal daging yang bercokol di dalam tubuh manusia dan menghubungkannya dengan kecantikan.

Walopun gak semua orang yang aku tanyain itu ngasi jawaban (entah karena faktor kesibukan, ketiadaan pulsa, kebingungan memikirkan jawaban yang bagus, atau mungkin juga karena pengaruh perasaan pribadi yang entah apa), aku udah cukup seneng nerima jawaban-jawaban yang masuk. Gak jarang, jawaban mereka itu memancing senyum, bahkan tawa. Malah bisa jadi hiburan, hehehe … Tapi nih ada juga jawaban yang udah bikin inbox penuh, bikin bingung yang baca juga.

Ceritanya gini, aku juga kirim sms yang isinya “Aslm. Menurutmu, apa itu cantik? Tol dijawab yaaaaa …” ke Rizky, temen SMP-ku yang sekarang jadi mahasiswa UGM (bener, kan, Ky?). Eh, jawabannya malah gini, “Wass. Sebentar ya, tak buka buku dulu.”

Grrrghh … Rada mangkel tapi geli juga baca jawabannya yang kaya’ gitu. Masa’ iya, buat ngejawab pertanyaan yang segitu simpel perlu mbuka buku segala? Aku sempet khawatir, jangan-jangan tue anak sekarang udah lupa gimana caranya mikir yang simpel gara-gara keseringan mikir yang ruwet-ruwet, kek ngurusin politik gitu.

Setelah ditunggu lama, akhirnya balasan smsnya datang juga. Balasan itu malah bikin kekhawatiranku kian dalam (alaaaahh … apa’an lagi tueh! Hehehe), soalnya smsnya itu gini bunyinya, “Menurut Maurice Duverger, cantik adalah adanya bakat antara efektivitas material (tampak luar) dan kualitas moral (nilai). Kalo menurut Max Weber (nama ni orang familiar deh keknya di telingaku, tapi aku lupa, siapa dia yaaa …??? Hehehe), cantik adalah prasangka sosiologi di mana moralitas dipandang dalam kerangka yang materialistik, namun memiliki banyak dimensi sesuai tipe-tipe sosial. Kalo menurut Hegel, mengacu pada Plato, cantik adalah hasil dialektika dan pemikiran manusia tentang kualitas seseorang, maka cantik itu relatif dan tergantung sudut pandang. Marx memandang cantik sebagai produk dari konflik kelas. He8.”

?????

Bingung?

Anda bingung?

Saya juga bingung!

Hidup bingung!

Yeah!

Percayalah, Sodara-sodara, kalimat sepanjang dan serumit itu disampaikan oleh beliau lewat sms! Masalahnya, segala milik saya serba terbatas untuk menerima kalimat-kalimat yang dikirimnya itu. Kapasitas inbox yang terbatas, didukung juga oleh kapasitas otak yang terbatas, menyebabkan mur-mur otak saya mulai bergetar saat membaca pesan itu.

Akhirnya aku nanya yang lain ma Rizky, “Eumm … kalo yang menurut Ahmad Rizky Mardhatillah Umar, ada?”. Baru deh dia jawab lagi. Jawabannya yang selanjutnya ini menurutku juga patut dikagumi, “Itu kalo menurut mereka yang membangun filsafat politik barat. Tapi kalo menurutku, cantik itu adalah pake jilbab, manis, pandangan terjaga, kalo senyum enak dipandang, kalo ngomong hati terasa tenang, keibuan ….”

Beuuuuuhhh …!! Gemeteran gak ya si akhwat kalo suatu saat seorang ikhwan macam Rizky ngelamar dia karena alasan itu? Hahaha …! Pasti speechless, deh! Hehehe … Nah, bagi para akhwat, diperhatiin tueh, kira-kira kek gitu lah akhwat idamannya para ikhwan untuk dijadikan calon istri! Hehehe …

Masih ada jawaban dari satu ikhwan lagi neyh! Kak Arul. Beliau bilang, “Cantik sebuah kata semu kalo didasarkan fisik, cantik tak bermakna jika diungkapkan dengan kata-kata, tapi banyak arti secara harfiah cantik merupakan keindahan, kebagusan, kebaikan, yang membuat orang yg melihat dan merasakan akan menganggap sesuatu yg melekat dengan kata cantik adalah indah, menenangkan perasaan.
Tapi sebenarnya, cantik itu lahir dari sebuah angapan … Nenek yang tua akan dbilang cantik oleh kakek, mana mungkin ayam jantan mengangap sapi betina itu cantik …
Makanya cantik itu lahir ketika dia hidup dalam komunikasi sesama tingkatan dan pandangan.”

Jawaban khas perpaduan ikhwan dan mahasiswa tueh …! Bahasanya itu lhooo … HeheheE … Dari kata-kata yang dipake, ketahuan kan orang itu pemikir ato gak.

Oke, udah cukup pendapat-pendapatnya. Jawaban-jawaban yang aku dapat sudah cukup beragam dan mewakili pengertian cantik dari berbagai sisi. Dari yang paling simpel, paling singkat, paling narsis, rada gak jelas, agak serius, sampe yang bikin otak kerja keras untuk mengerti maksudnya pun ada. Yah, yang namanya pendapat, gak ada ukuran salah bener dunk …! Semuanya bener.

Pertanyaan selanjutnya, ditujukan untuk makhluk istimewa, para wanita. Apa yang bakal kamu katakan kalo ada orang yang nanya, ”Apakah Kamu adalah wanita yang cantik?”

Banyak yang yakin (baik yakin ngerasa cantik ato sebaliknya), banyak juga yang gak yakin. Bagi mereka yang gak yakin, mungkin mereka bakal bertanya-tanya, bagian mana di dalam diriku yang bisa dianggap cantik?

Fitrahnya, setiap wanita itu istimewa. Setiap wanita itu berharga. Setiap wanita itu cantik. Sehingga semua itu perlu kita jaga.

Kita, para wanita, tetap istimewa, cantik, dan berharga dengan semua yang ada dalam diri kita, dengan semua yang kita miliki. Entah itu paras yang bikin semua orang terpesona, entah itu kulit yang sehat, putih, dan mulus, entah itu bentuk tubuh yng sempurna, entah itu tutur kata yang halus dan santun, entah itu kepribadian yang menarik, yang bisa bikin orang seneng di manapun dia berada, entah itu kecerdasan yang luar biasa, entah itu ketajaman intuisi, entah itu hati yang lembut, entah itu keramahtamahannya, entah itu sifat penyayangnya, entah itu kepiawaiannya berbahasa, entah itu ketangguhan dan ketabahan hatinya, entah itu keteguhan pendiriannya, entah itu senyum yang manis dan memikat semua mata, entah itu kecekatannya dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, entah itu khariswa dan wibawanya, entah itu keteguhan iman dan kesholihannya, entah itu keanggunan sikapnya, entah itu kedewasaannya dalam berpikir, entah itu kebijaksanaannya, entah itu keluguannya, kecuekannya, kesleborannya, kekonyolannya, kecerewetannya, kelemahannya, kerapuhannya, pokoknya semua!

Semua yang kita miliki itulah yang membuat kita berharga, itulah daya tarik kita, itulah keistimewaan kita, itulah yang membuat kita pantas disebut sebagai wanita yang cantik. Ya semua itu. Betapa pun bagus dan jeleknya.

Tidak perlu khawatir, karena setiap orang punya ukuran sendiri untuk menilai orang lain. Tidak semua orang menilai kamu jelek atau biasa-biasa saja. Pasti akan ada yang menganggap kamu cantik, sekalipun kulitmu tidak putih dan kasar, atau tubuhmu terlalu pendek atau gemuk, atau hidungmu yang terlalu pesek, atau pipi yang terlalu tirus atau tembem, atau bibir yang terlalu tebal, gigi yang tonggos dan berantakan, alis yang hampir tidak kelihatan, bulu mata yang terlalu pendek dan tidak lentik, mata yang terlalu sipit atau terlalu belo’, atau rambut yang terlalu keriting atau terlalu tipis, bentuk kuku yang tidak bagus, jempol kaki yang besar sebelah, atau bulu (rambut) kaki dan tangan yang kelewat lebat, dahi yang terlalu luas, atau dialek bicara yang terlalu cepat atau terlalu keras, atau pelupa, atau ceroboh, atau penyakitan, atau cengeng, atau pemarah, atau apapun di dalam dirimu yang menurutmu tidak bagus.

Memang, manusiawi sekali kalau semua wanita itu ingin memiliki kecantikan yang sempurna. Sangat wajar jika setiap orang ingin memiliki pasangan yang cantik atau tampan, ehm, ganteng lah gitu …! Atau minimal enak dipandang mata. Kalo dipandang, nentremin … gitu!

Sekali lagi, tidak perlu cemas, karena sebuah ketertarikan tidak akan pernah bisa dijelaskan, dan untuk jatuh cinta pun kadang tidak perlu alasan. Kalau Allah menghendaki, tidak ada yang bisa menghindar apalagi menolak.

Gampangnya begini, kamu mungkin punya bentuk muka yang kurang bagus dan kulit yang agak gelap, tapi kamu punya senyum yang manis dan tutur kata yang halus, enak didengar. Atau, kamu mungkin punya bodi yang agak besar (ke atas atau ke samping), tapi kamu punya kepribadian yang menarik, kamu punya sesuatu yang bisa bikin semua orang merasa nyaman dan senang ada di dekat kamu. Atau kamu mungkin adalah orang yang pelupa, ceroboh dan slebor abis, tapi kamu adalah orang yang cuek, hampir gak pernah terlalu peduli atau terlalu khawatir akan apa pun, selalu enjoy ’n nyantai ngejalanin hidupmu. Just let it flow, mungkin gitu motto hidupmu. Bagusnya tipe orang kek gini tueh gak gampang stress. Enak kan?! Atau mungkin juga kamu adalah orang punya badan pendek, tapi kamu pintar menghibur orang lain, dan selalu bisa bikin mereka ketawa setiap mendengar kata-kata yang keluar dari mulutmu. Dan ’atau-atau’ yang lain.

Kekurangan yang kamu miliki tidak akan mengurangi kelebihan yang ada di dalam dirimu, selama kamu bisa menonjolkan bagian yang ’lebih’ itu. Kalau kamu belum tau apa yang jadi kelebihanmu, coba deh luangkan waktu untuk mencari tau atau bertanya langsung dengan orang-orang yang ada di sekitarmu. You’ll find what ur searching for. Insya Allah. Yakin aja, deh!

Langkah berikutnya, hargai apa yang menjadi kelebihanmu itu, dan optimalkan fungsinya.

Misalnya, kalau kamu ternyata punya bakat merangkai kata-kata yang bagus, ya rajin-rajinlah menulis. Bisa menulis puisi, cerpen, artikel, essay, atau ngebantuin temen kamu yang anak band untuk nulis lirik lagunya. Semua itu bisa jadi duit, lho! Tulisan itu mahal! Liat aja, makin tahun harga buku uda kaya’ emas. Makin mahal!

Kalau kamu pinter ngomong di depan orang banyak, yach a good public speaker, gitu lah …! Coba aja belajar jadi presenter! HeheheE … Yah, untuk latihan permulaan, bisa aja kamu rajin-rajin nawarin diri untuk jadi moderator diskusi di kelas. Hehehe … Eits, jangan salah, lho! Menurut info terbaru yang aku dapat dari dosenku, moderator sekarang bisa jadi profesi! Bisa dipanggil ke diskusi-diskusi besar atau seminar-seminar, dan itu dibayar secara profesional! Tau kan, gak semua orang bisa jadi moderator yang baik. Perlu kemampuan khusus.

Namun perlu diingat, menghargai kelebihan diri tidak lantas membuat kamu jadi over confidence yang menjurus ke sifat sombong. Tetaplah rendah hati. Itu penting, karena kerendahan hati juga merupakan salah satu komponen kecantikan yang termasuk dalam inner beauty (alah, sok tau! heheheE …). Jangan lupa, kamu juga punya kekurangan. Gak ada yang sempurna.

Intinya, tetaplah jadi dirimu sendiri sepenuhnya. Be ur self, gitu kata orang bule.

Menjadi diri sendiri apa adanya memang bagus, tapi berusaha untuk menjadi pribadi lebih baik lagi itu juga penting. Terutama, memperbaiki kepribadian. Memperbaiki sesuatu yang biasa disebut orang sebagai inner beauty. Bapak Sajiman, dosenku, bilang kalau inner beauty akan tercermin menjadi kecantikan fisik, tapi kecantikan fisik tidak selalu mencerminkan inner beauty.

Pokoknya, gimana caranya supaya yang ngerasa gak cantik bisa jadi cantik, trus, yang uda ngerasa cantik bisa makin cantik. Ingat, kupu-kupu yang indah dan berwarna-warni itu mulanya cuman seekor ulat daun yang dianggap menjijikkan oleh sebagian orang, bahkan dibenci. Seiring bertambahnya usia, bertambahnya kedewasaan, kecantikan dari dalam diri tidak boleh berkurang sekalipun kondisi tubuh makin menua.

Gimana? Udah gak ragu lagi, ya! Jadi, tanamkan dalam dirimu, dan jangan pernah ragu untuk mengatakan, ”Ya, aku adalah wanita yang cantik. Aku cantik dengan semua yang aku miliki.” (^.^)

Special Thanks to:

  • Akhmad Hanafi Maulana, who inspirated me about this theme for the first time. Terima kasih banyak atas pelajaran berharganya, ya, Mas …! ^___^

• Bapak Sajiman, yang udah menambah inspirasi Tyas dalam menulis tulisan (yang entah apa namanya) ini lewat petuah-petuah beliau di kelas.

• Buat teman2 yg uda mau jawab pertanyaan Tyas. Kalian mengajarkan banyak hal buat Tyas lewat jawaban2 kalian.

• Buat yang gak jawab ato gak bisa jawab, gak apa2. Tapi lain kali tolong diusahain dijawab, ya! Soalnya bukan gak mungkin Tyas bakal nanyain hal-hal aneh yang lain, heheheE …

• Trus, yang jawabannya belum sempat dimuat karena terlambat masuk ke meja redaksi (kekekek … ;p) bisa dituangkan melalui komen untuk postingan ini.

• Makasih banyak buat semua wanita yang sudah jadi inspirasiku untuk tulisan ini.

^___________________________^

Oleh: Fathiya Nazihah | 6 Maret 2009

Bagaimana Menjadi Dewasa

Aku percaya saat semua orang mengatakan bahwa kedewasaanku melebihi umurku.

Tapi aku benar-benar tak percaya saat aku sadar bahwa aku menangis hanya karena terantuk batu.

Hanya sebuah batu.

Batu kecil yang menyebabkan aku harus menangis dan terluka.

Kemudian, aku belajar, bahwa menjadi dewasa bukanlah bagaimana aku menasihati orang dengan kalimat sebijak mungkin, tapi bagaimana aku bersikap saat masalah mengurungku dan hanya aku yang bisa mendakinya untuk mencapai tempat yang lebih tinggi.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori